12 Oktober 2016

Pendakian Perdana Gunung Lawu - Lupakan Bali

Yes Outdoor : Dua minggu sebelum keberangkatan, aku baru tahu kalo kalian akan study tour sendiri. Yaa.. study tour yang tidak ada dalam daftar pilihan dari sekolah kami waktu itu.

Kalian merencanakan pendakian ke gunung Lawu dan gunung Sumbing sebagai ganti study tour? Benar-benar ide gila bathinku,hahaha.

Siang itu setelah saya memutuskan untuk ikut pendakian Lawu dan Sumbing, saya membatalkan untuk ikut study tour.

Tanpa pikir panjang saya segera membayar uang iuran yang akan dibelikan perbekalan kami selama pendakian.

Seinget saya 40rb kontan! Wkkk (mereka mencicil tiap minggu 5 ribu, karena sudah dari 2 bulan sebelumnya merencanakan proyek pendakian Lawu dan Sumbing).

Selanjutnya teman-teman dan saya mencari peralatan untuk saya, karena saya mendadak ikut saat H-1, sedangkan peralatan pada waktu itu saya belum memilikinya. Maklum masih unyu-unyu bro.. sist..

Kami mencari ke berbagai tempat  dan akhirnya bisa menyewa ransel, sb, dll di Rinjani Outdoor sebagai sebuah rental peralatan outdoor milik pak Nur  Abyadi.

Pendakian perdana gunung lawu
Tengah dan merah serem banget

Setelah peralatan beres, saya segera pulang ke rumah di gang Mangga, kemudian mulai packing peralatan pribadi, selanjutnya dibawa ke posko Gaspala pada malam harinya.

Malam  itu Turyono dan Edi juga belanja logistik di pusat perbelanjaan yang lokasinya ga jauh dari rumah saya. Jadi mereka menyempatkan mampir untuk sekedar mengecek list alat dan juga memintakan ijin kepada ibu saya agar saya dibolehkan ikut pendakian dan membatalkan study tour wkkk... Ngawur yakin!


Pukul 22.00, sengaja saya agak maleman ke posko karena malu membawa ransel full amunisi ditambah daypack dan naik sepeda broo..wkkk. Jaman itu kalo ada yang bawa ransel pasti diliatin orang-orang, kalau sekarang mungkin dah biasa ya...

Sampai posko malah saya diketawakan sama Bambang (gsp 15) karena packingan saya yang bengkok bengkok seperti ular. Maklumlah anak baru jadi saat packing gak pake matras di dalemnya wkkk... Kasus!

Selanjutnya malam itu kami ber-6 (Edi, Aris, Azwar, Turyono, Ryan dan Saya den Baguse Hari Satria) ditambah teman-teman lain (Rigel anak minyak, Bambang, Helmi, Aryanto) packing di posko.

Gunung Lawu, pendakian perdana
Gunung Lawu, pendakian perdanaku

Untuk Helmi dan Bambang juga akan main, tapi ke bukit di Kebumen sebelah timur. Sedangkan Aryanto dan Rigel cuma ikut meramaikan posko malam itu, karena mereka lebih milih jadi turis lokal dengan  ikut study tour ke Bali.

Beres packing sekitar pkl 12 mlm deh rasanya, selanjutnya kami main kartu di depan posko, pokeran bro..juga remi, wkkk... Eh tapi ujug-ujug alias tiba-tiba  ada suara pintu lab kimia (yang di timur posko) terbuka, jelas banget tuh suara pintu lab kimia.

Seketika kami diam semua, sementara Edi buka mulut "Arep ditiliki apa yuh?" (Mau dilihat? Yuk..) Dan kami menjawab gak usah, lebih baik kami tidur wkkk.

Kamipun tidur  di posko, depan posko dan juga dapur, karena paginya harus bangun jam 4 dan berankat ke stasiun untuk mengejar kereta Logawa ( masa ngejar kereta wkkk)...zzzz

9 april 2006 jam 4 pagi
Kami ber-6 mandi menumpang di kamar mandi sekolah, apa toilet ya?. Setelah itu shubuhan dan sarapan.. Sarapan apa saya lupa nih..tapi yang jelas sarapan dan bukan daging wkkk.

Jam 6 pagi tepat kami ber-6 berangkat jalan kaki menuju stasiun yang berjarak beberapa kilometer dengan jalan kaki. Sebelumnya foto bersama di depan lab kimia tuh.

Pagi itu juga teman-teman kami yang study tour berangkat, jadi kami berusaha lebih pagi meninggalkan sekolah. Takutnya dipaksa ikut ke Bali aja kalau teman-teman dan guru melihat dandanan kami yang eksentrik wkkk..

Kami ber-6 dengan total ransel 3, daypack 6. Jadi yang gak bawa ransel harus bawa 2 daypack depan belakang. Karena perbekalan kami untuk 2 gunung bro... Buset dah waktu itu management kami masih berantakan banget ya? Dua gunung semua bekal dipersiapkan dari lokasi start. Wew.. endezz

Baru sampai perempatan stadion Candradimuka, ada sedkit masalah nih, tali slempang daypack punya Ryan lepas dari jahitan, mungkin terlalu berat isinya ya..tapi bisa diakali tuh dengan cara disimpul ke bagian tas lainnya.

Lanjut...
Sampai tugu lawet  aktivitas pagi hari cukup ramai, kami berjalan dengan perasaan gagah dan bangga juga malu (bangga karena ada identitas gaspala di slayer yang kami pakai di kepala, malu karena bawaannya banyak banget kaya transmigran wkk..).

Terbukti ada tukang ojek yang manggil-manggil "Gaspala ya mas? Arep ngendi?" Begitu.. dan kami hanya tersenyum. Gak lama kami sampai di jalan Pemuda, mulai berpapasan dengan orang-orang yang lari pagi, krn hari itu adalah haru Minggu seinget saya.

Berharap juga papasan sama mereka yang mau berankat study tour untuk sekedar say hello. Tapi sprtinya itu gak terjadi.

Mendekati stasiun kami masuk lewat jalan tikus, yaitu lewat rumah kelelawar yang di barat stasiun, kemudian masuk peron. Waktu itu masih bisa naik kereta dengan cara tidak beli tiket, kalo sekarang jangan harap!

Kereta logawa jadwalnya jam 8 dan kami mulai berembug mau naik lewat gerbong berapa, berpencarkah di atas kereta dll.. Karena emang ga beli tiket, jadinya gitu deh dag dig dug...

Keretapun datang, dan kami naik berebut dengan penumpang lain. Dapetnya sih di kereta makan hahaha. Tapi tetep aja berdiri, karena penuh sesak, apalagi bawaan kami yang super banyak. Sepertinya hampir semua penumpang merasa sebal dengan kami,wkkk.

KA logawa ekspres yang akan membawa kami ke Solo ternyata penuh sesak. Maklum saja, kan tanggal merah alias hari libur..

Tanpa beli tiket, kami nekat naik kereta itu, walau di perjalanan kami disemprot sama pak kondektur has.. hes.. hos.. nyas.. nyes.. nyos..

Keretapun berjalan ke timur..di tengah perjalanan, hal yang kami khawatirkan datang, yaitu kondektur. Dengan wajah memelas, Turyono yang kebagian jatah memberikan uang "tip" ke kondektur. Sebelumnya kami ber-6 saling tunjuk.

Foto Malam pendakian gunung lawu
Foto malam di sekolah

Sepertinya Turyono kena marah deh (1orang kena 5rb, dan ditarik tiketnya 2 kali sepanjang perjalanan,jadi biaya perorang 10rb waktu itu) slendem...

4 jam lamanya kami berdiri, kadang duduk juga kalo ada kursi kosong. Sampailah kami di stasiun solo balapan.

Pkl 12.00 kereta berhenti di stasiun Setelah turun dari kereta, kami menuju keluar dan bertanya ke pak satpam tentang rute  ke terminal Tirtonadi. Setelah mendapat wangsit dan petungjuk jalan ke terminal Tirtonadi, kami segera melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Trims untuk petunjuknya pak satpam.

Berjalan kaki ke terminal yang lumayan dekat, kemudian menunggu bus ke Tawangmangu. Ga lama dateng juga tuh bus. Dengan membayar 8 ribu rupiah, kami bisa naik bus tersebut sampai di tawangmangu.

Turun di depan gapura pendakian, kami segera mencari basecampnya. Sempat bingung karena tidak ada petunjuknya. Waktu itu cuma tertulis perhutani dll, intinya ga keliatan kalo itu basecamp.

Wuihhh... benar-benar asli dinginnya sore itu. Kata Aris Kesod, basecamp ini tingginya 1900 mdpl. Pantes aja dingin banget.

Setelah ngurus perijinan, kami langsung cari warung makan, karena emang perut udah laper setelah terakhir makan di pagi hari. Disekitar basecamp sudah banyak warung, karena jalur tersebut penghubung antara Magetan (Jatim) dan Karanganya (Jateng).

Masjid juga ada di seberang jalan. Sambil makan kami membahas tentang rencana start pendakian, dan seperti biasanya naik setelah isya. Walau akhirnya ke pending karen hujan deras malam itu.

Rencananya kami mau start naik abis isya, eh trun ujan... mana si Turyono kebelet xxx lagi! Wew.. terpaksa aku temenin dulu dia ke toilet diseberang basecamp, daripada nantinya dia bikin kotor jalur pendakian? wkkk..
Katanya  "airnya kaya es Har!" Waktu ini gak ada penerangan juga. Jadilah kami disana terdiam sambil nunggu ujan reda

Start
Alhamdulillah,pkl.23.00 ujan reda.
Dengan berdoa kpada Allah Swt, kami mengawali perjalanan malam itu. Trek awal berupa jalan makadam. Ga jauh dari basecamp ada camping ground di kiri jalur, banyak juga yang ngecamp malam itu.

Kata kang Jo, di area itu dulu pernah Toso Dawet dikasih bonus ciu sama pendaki dari Surabaya yang akhirnya mengakibatkan dia gagal muncak karena teler, malah harus diantar balik ke basecamp dan ditinggal sendirian dia disana wkkk... mirip di camp pengasingan.

Medan awal masih berupa jalan makadam (batu-batu ditata). Sepertinya hampir semua gunung terdapat jalur makadamnya sih, bener ga ya..?

Oya, pohon-pohon disana tuh aneh-aneh bentuknya. Mirip hewan! Konon critanya itu gara-gara kebakaran yang melanda kaki gunung Lawu sebelumnya (tahun berapa yah lupa ).

Sambil trus jalan, kami kadang memikirkan teman yang ikut study tour ke Bali. Pasti mereka tidur di hotel, makan enak, sedangkan kami disini harus berjuang melawan rasa lelah, haus, lapar dll.

Tak apalah, itu semua pilihan kami yang malam itu sedang melakukan kegiatan "Edan"! Tetep semangat menjalaninya.

Ga lama, jalur berubah agak menyempit, terpaksa jalan beriringan Edi, Aku, Ryan, Azwar, Turyono, Aris. Sesekali kami berhnti untuk sekedar melepas lelah, sambil jepret sana sini.

Oya disini aku juga sempet pusing-pusing, mungkin gejala AMS. Tapi berhasil diatasi dengan minum pil antalgin yang selanjutnya jadi ingat slogan "antalgin, diontal langsung gin." Maklum aja kan ini pendakian perdanaku.

Menjelang pos3, saya dan lainnya ingat oleh pesan teman yang memberi tahu,"hati-hati di pos3 ada penunggunya. Infonya ada yang pernah bunuh diri disitu." Kami pun gak isthat / ngecamp disitu. Walau sempat diminta tolong oleh pendaki yang ngecamp disitu, mereka pinjam korek sih.

Terus berjalan sampai melewati pos 4, dan rasa kantuk gak bisa ditahan lagi. Akhirnya diputuskan ngecamp di lahan seadanya, cukup untuk 2 tenda. Saat itu waktu menunjukkan pukul 4 pagi.

Tenda berdiri, masak kopi, buka cemilan dll. Tapi gak sempat tidur sih, karena emang dah menjelang pagi, apalagi hampir sunrise. Lumayanlah untuk sekedar istirahat, nunggu shubuh, sunrise dll.

Pagi itu
Paginya pukul 7 baru kami terkapar karena gak tidur. Ada kejadian dimana tenda kami didekati oleh burung jalak gading disini yang menurut info dari orang basecamp, burung tersebut dulunya hewan kesayangan raja Brawijaya V. Dan bila bertemu agar jangan diganggu. Biarkan saja.

Setelah matahari mulai meninggi, kami mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan.
Jam 8 pagi kami lanjut ke puncak Hargodumilah. Di tengah perjalanan ketemu juga sama orang-orang yang sepertinya baru melakukan ritual di puncak. Terlihat mereka mengenakan blangkon, dan membawa payung orang mninggal, sesaji,dll. Mungkin mereka dari penganut aliran "kejawen".

Tetep lanjut bro.. sist.. sampe akhirnya kami berhasil menginjakkan kaki di puncak Hargodumilah +- jam 12 siang. Yap tengah hari kami baru bisa menginkakkan kaki di puncak. Tapi tetap bersyukur bisa berdiri disana.

Sampai di puncak Hargodumilah, kami berfoto-foto, bertemu dengan pendaki lain, sekedar mengucap salam dan bertanya dari mana. Kalau sekarang rasanya udah jarang yang seperti iti, mungkin cuek kali ya? Wkkk... sayang banget.

Waktu itu kami juga melewati warung "mbok Yem", tapi ga mampir sih, karena pertimbangan waktu. Di areal puncak gunung Lawu sebenarnya banyak spot-spot yang belum kami jelajahi semua, di antaranya Pos Ujung Dunia, puncak Hargodalem, Hargodumiling, karena kami memang cuma di Hargodumilah. (tolong koreksi ya kalo sy salah dalam menulis atau menyebutkan nama).

Cerita selanjutnya nih
Ketika dipuncak, kami sempat masak untuk makan siang, memilih lokasi yang agak tersembunyi ( di sekitar tanaman cantigi).

Eh baru bbrp menit sudah diingatkan sama pendaki lain untuk pindah lokasi atau turun, karena infonya akan ada badai.

Entah itu hoax atau berita benar, tapi karena kami masih unyu-unyu dan sangat hijau dalam dunia pendakian, maka kami segera memutuskan untuk cepat-cepat turun gunung.

Gak pake packing rapih, intinya semua barang masuk ransel dan segera turun. Bahkan mie yang sedang dimasak cuma dibuang airnya dan dibiarkan di dalam mesting. Eh.. dibuang airnya apa diminum sama Aris Kesod ya? wkk..

Pokoknya masakan yang belum mateng bener langsung dipacking aja, terus cepat-cepat turun melintasi jalur berbatu, berkelak-kelok, membelah ranting-ranting disepanjang jalur.

Sempat foto di pos watu jago yang difotokan oleh pendaki lain.  Menjelang sampai basecamp, hujan turun cukup deras membuat kami kembali berlari  biar gak basah kuyup, padahal udah bawa mantol tuh, tapi malas untuk memakainya.  Dasar anak muda!

Cerita di basecamp setelah pendakian
Seperti biasa, setelah sampai basecamp kami segera bersih-bersih, sholat, ngemil dll. Gak ketinggalan juga kami  membahas rencana esok yaitu pendakian ke gunung Sumbing.

Oiya, kami memilih naik turun lewat Cemoro Sewu karena barang-barang bawaan kami ada yang ditinggal di basecamp. Itu karena kesalahan management pendakian.

Ya, untuk pendakian 2 gunung, kami membawa semua peralatan dan perlengkapan juga logistik secara langsung wkkk.. Padahal kan untuk logistik bisa belanja di pasar terdekat ya? Tapi.. ah, sudahlah.. kami bisa mengambil hikmah dari kesalahan kami itu.

Malamnya kami sempatkan main kartu dan juga bercanda. Bahkan saya masih inget candaan malam itu, "Billabong, bila bolong ditambal dong". Hayoo siapa yang ingat dengan candaan itu?


Malam itu juga saya ada rasa "kapok  naik gunung!  Karena apa? Karena saya merasa pusing setelah mandi!. Wkkk... benar-benar dingin airnya!".

Norak banget ya? wkkk.. Nah, pada saat itu sebenarnya saya memutuskan untuk tidak ikut ke gunung Sumbing keesokan harinya dengan alasan ada acara di rumah.

Tapi akhirnya di termnial Tirtonadi saya berubah pikiran dan ikut naik bus Eka ke Magelang wkkk... ndam.. ndem.. banget ya bro.. sist.. Maklumlah anak muda wkkk..

Akhirnya kami semua memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke gunung Sumbing.

Inilah sepenggal cerita dariku. Kisah yang penulisannya kata kang jo bikin puyeng gak karuan wkkk.. 

Semoga dapat djadikan kenangan, mengenang masa-masa awal kecintaanku pada naik gunung yang hingga kini masih aku jalani.
Pendakian perdana selalu meninggalkan kesan mendalam bagi setiap orang yang pernah mendaki. Susah, senangnya akan selalu terkenang meskipun telah mendaki banyak gunung lainnya.
Begitupun juga dengan saya yang selalu mengenang pendakian tersebut sebagai langkah awal dari perjalanan saya sebagai orang yang suka mendaki gunung.

Trima kasih kepada:
1.Allah SWT
2.Orang tua kami,
3.Pak Sudarto (waka sek),
4.Teman-teman, Edi, Aris, Turyono, Azwar,Ryan, Helmi, Bambang, Aryanto, Rigel, pak Kondektur, pak Satpam dan semua pihak yang ikut membantu kelancaran kegiatan kami.

Sayang banget saya gak bisa menemukan foto-foto lengkap pendakian perdana saya di gunnug Lawu :(



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)