10 Oktober 2016

Pendakian, Antara Kapok dan Persahabatan

Yes Outdoor : Masih dengan tema pendakian klasik, saya Hari Satria mengisahkan untuk Yes Outdoor. Sebuah kisah nyata perjalanan pendakian gunung oleh sekelompok sispala.

Ini adalah kegiatan menjelang berakhirnya kepengurusan saya (kegiatan penutup adalah diklat anggota tetap) saat masih menjadi pengurus di Gaspala,salah satu ekskul di Smanda,sekolah saya dulu.

Seperti yang sudah sudah,kegiatan pendakian hampir turun temurun di semua angkatan tidak masuk program kerja,namun tetap dilaksanakan (semoga angkatan sekarang di acc).

Periode kepengurusan saya waktu itu 2005-2006. Dan kegiatan pendakian ini dilaksanakan di bulan Mei tgl 9, 10, 11 thn 2006 bertepatan dengan ujian nasional waktu itu.

Sedari awal sebenarnya pak pembina (Pak Suyanto) sudah mewanti-wanti agar dipertimbangkan lagi untuk rencana pendakian ke gunung Sindoro ini, dengan alasan berbagai macam.

Namun dengan tekad bulat, kami (pengurus gsp) tetap mengadakan pendakian ini. Pak suyanto hanya bisa mendoakan semoga kegiatan berjalan lancar aman selamat, beliau tidak dapat mendampingi karena bertugas menjadi pengawas ujian.

Hari selasa,9 Mei 2006
Pose di puncak Sindoro 2006

Kami sudah mengumumkan kepada peserta pendakian, untuk berkumpul di halaman timur smanda / depan lab komputer, mengingat sedang diadakan ujian nasional jadi tidak disarankan untuk beraktivitas di posko Gaspala.

Pagi itu senior (kelas 3) menyempatkan diri untuk memberi suport, doa, semoga kegiatan lancar tanpa halangan apapun. Mereka juga meminta agar dimudahkan dalam mengerjakan ujian nasional.

Total peserta adalah 19 dengan rincian pengurus 9 orang,anggota muda 10 orang.


Persiapan di Sekolah

Kami berjalan kaki mengendap endap keluar gerbang Smanda dan sempat terlihat oleh para guru, tapi hanya dibiarkan saja. Mungkin beliau tahu kalau kami adalah kelompok anak nggunung yang punya kepribadian lain dari siswa yang lain wkkk..

Sampai perempatan stadion, dimana kami harus naik angkot menuju terminal bis/Kedungbener untuk selanjutnya berganti bus akap.

Di dalam angkot, kami mendapat tawaran dari pak supir dan kernet agar mencarter angkot tsb (karena penumpang hanya beberapa saja). Setelah itung-itunganan dengan sangat detil dan teliti ( maklum kami benar-benar harus menghitung semua aspek  biaya ) karena masih sekolah dan menggunakan dana mandiri, terbukti kami berangkat pake seragam osis (biar dihitung tarif pelajar ***modus).

Akhirnya deal di angka sekian rupiah untuk sampai di desa Kledung  Melewati Purworejo ke utara, jadi inget kisah semburan maut nih wkkk...


Siang hari tepatnya pukul berapa saya lupa, kami sampai di desa Kledung.  Setelah turun angkot carteran, menurunkan ransel, kami berjalan masuk ke pemukiman menuju basecamp Grasindo (waktu itu masih di dalam lokasinya, blm di pinggir jalan raya seperti sekarang).

Sampai basecamp, kami mendaftar di buku tamu, bayar retribusi dan bisa istirahat/ aklimatisasi / adaptasi, makan siang dll.

Oiya,disini kami juga mendapat info dari wakil ketua (Nurul),kalau rombongan kami akan ditemani pendaki dari Kebumen juga, yaitu Borneo Adv Tim yang bermarkas di simpang 5 Pejagoan.

Packing
Mereka berjumlah 3 atau 4 orang deh, seingat saya (Sabil, Supri, Tono dan satunya saya lupa).

Briefing dan packing ulang, tidak lama rombongan Borneo  datang.
Diputuskan berangkat naik malam hari setelah sholat isya.

Start...
Dengan diawali doa bersama, kami melangkahkan kaki menuju jalur pendakian.

Medan berupa batuan makadam (batu yang disusun rapi), masih landai. Dengan sajian kanan kiri adalah kebun tembakau. Cukup lama melewati jalur makadam ini, hampir 1 jam lebih mungkin, mengingat jalur makadam di gunung Sindoro memang panjang.

Sampai di penghabisan jalur makadam/pos ojek, kami istirahat (sebelumnya juga udah beberapa kali istrhat wkkk).

Narsis depan kampus
Berganti medan tanah khas pegunungan, yang jika hujan sangat licin (malam itu alhamdulillah tidak hujan). Jalur juga mulai menanjak, beberapa kali terdengar teriakan  minta istrhat.

Oiya, kami berjalan dalam rombongan besar (sekitar 23 orang). *info yang saya tahu, lebih baik jika kegiatan pendakian seperti ini dibuat per kelompok berisi 5/6 orang.  Namun sudah terlanjur yaa ...

Nafas mulai tersengal-sengal ditambah hawa dingin khas pegunungan, kami terus berjalan. Namun tidak lama terdengar kabar ada seorang anggota muda yang "drop" dan membuat semua peserta menjadi sedikit ricuh.

Akhirnya diputuskan, rombongan besar terus berjalan menuju Pos 3 sebagai target camp kami malam itu. Dan si sakit akan dipandu oleh Borneo Adv Tim.

Saya sendiri waktu itu masuk rombongan besar, karena memang belum tahu harus seperti apa menangani si sakit. Maklumlah masih muda belia wkk..

Nyebrang, jalan dikit sampai basecamp dah :)
Sampai Pos 3 sudah dini hari, spertinya pukul 2/3 pagi. waktu normal dari basecamp sampai Pos 3 adalah 4-5 jam.


Segera kami berbagi tugas, mendirikan tenda, membuat minuman hangat dll.
Sampai akhirnya semua beres,kami masuk ke tenda untuk istirahat.

Tidak berapa lama rombongan si sakit juga datang, dengan kondisi yang sudah bertambah parah (lemah, letih, lesu, kelopak mata sayu, tidak berdaya, gak mau makan, susah diajak ngobrol). Tapi bukan hypotermia nih bro sis.. dia memang gitu orangnya.


Ditangani oleh pengurus cewe, kabar baiknya dia mendingan. sudah mau makan sereal hangat sedikit-sedikit.

Baru aja saya mau terlelap, ada yang terserang hypotermia (bukan si sakit). Kami (pengurus kocar kacir). Untungnya sudah ada api unggun menyala.

Segera ambil sleeping bag super tebal (TNI), menyadarkan si korban dan mendekatkan ke api supaya suhu tubuhnya naik. Info terakhir dia punya sakit asma, entahlah waktu itu kambuh asmanya atau hypo atau keduanya.
Setelah teratasi, dia dimasukkan ke tenda dan dalam penjagaan ketat wkkk...

Akhirnya bisa tidur nih....

Pagi hari,10 Mei 2006
Setelah ishoma, kami bersiap untuk melanjutkan pendakian. Setelah dirembug dengan Borneo Tim, diputuskan si sakit akan tetap di Pos 3 dan untuk yang mau melanjutkan dipersilakan.

Rombongan summit ada 15 orang termasuk saya. Sedangkan yang standby di Pos 3 ada 7 (si sakit,Azwar, Turyono, Nurul dan3 orang dari Borneo Tim ).

Selepas Pos 3 jalur bertambah terjal, terlebih menjelang pos Watutatah. Benar2 tanjakan terjal dan menantang fisik serta mental kami.

Break time
Tidak lama kami mulai masuk di ladang edelweis,yang artinya sebentar lagi sampai puncak (-+ 1 jam).


Dan akhirnya sampailah kami di puncak gunung Sindoro hari itu dalam keadaan sehat wal afiat. Sepertinya pkl 12/1 siang.

Cukup lama kami disana, sambil memasang flyshet untuk menghindari terik matahari, menikmati cemilan yang kami bawa, foto-foto dll. Bahkan kami (beberapa) sempat turun ke kawahnya, karena memang sedang surut dan tidak aktif seperti kisah pendakian sindoro 2015 dengan tragedi Kisah Mencekam di Puncak Sindoro hihi...

Sekitar pukul 2 siang kami putuskan turun kembali, dengan langkah bersemangat karena ada teman kami yang menunggu di Pos 3, jadi harus cepetan turun nih.

Namun di depan seperti ada yang janggal, benar saja. Ternyata ada anggota muda (Bambang) yang kesleo di bagian engkel karena asik berlari saat turun.

Dicoba untuk berjalan tidak bisa, dengan bantuan tongkat pun merepotkan. Akhrnya Edi (ketua kami) memutuskan menggendongnya, bergantian dengan saya.

Dan untuk medan yang berupa parit aliran air, Bambang bisa berjalan tanpa digendong memanfaatkan dinding tanahnya yang tinggi.

Dari mulai sekitar pos Watutatah saya dan Edi bergantian menggendongnya. Sedangkan Aris Kesod ditugasi untuk memimpin rombongan turun.

Disini terpecah jadi 2 rombongan, Aris Kesod bersama 11 orang dan saya, Edi serta Bambang.

Hampir mendekati Pos 3, kami berpapasan dengan rombongan Borneo yang ternyata membawa si sakit untuk naik (alamaak.. pripun niku? bahaya!). Memang berbahaya membawa seorang yang tidak fit untuk memaksakan naik! Setelah barter barang bawaan (logistik dll), kami putuskan berpisah.

Sampai Pos 3 sekitar pukul 4 sore terlihat rombongan Aris Kesod sedang packing untuk persiapan turun. Kami segera bergabung.

Setelah packing kilat, mengingat sudah sore, kami melanjutkan turun dengan posisi tetap si Aris Kesod sebagai leader. Dan Saya serta Edi membantu Bambang untuk turun di posisi belakang barisan karena kalau kami di depan akan menghambat pergerakan teman-teman.

Menjelang magrib, sekitar Pos 2, Saya dan Edi benar-benar kelelahan menggendong Bambang. Di depan terlihat rombongan Aris Kesod sedang istrhat.

Setelah bergabung, ternyata mereka anggota muda cowo semua, dan si Aris sudah di depan bersama anggota muda yang cewe. Alamaak.. slendem sekali kau Aris Kesod?

Track menuju puncak Sindoro via Kledung
Dari sana Saya dan Edi mengajak bergantian menggendong Bambang dan yang mendapat jatah adalah Anwar Nggabres. Dengan postur tubuh yang hampir sama dengan Bambang, membuat Anwar tidak sanggup menggendongnya, malahan Bambang sempat di "smackdown" olehnya wkkk... untung gak nangis dia

Baiklah, nampaknya memang sudah jatah Edi dan Saya untuk menggendong Bambang jumbo.

Menjelang isyaa, akhirnya sampai juga di jalan makadam dan beruntungnya sudah standby ojek disitu. Langsung saja kami naikkan Bambang ke ojek untuk diantar sampai basecamp. Sisanya tetap berjalan kaki wkkk....

Sekitar pkl 2100 Saya dan Edi sampai di basecamp, bertemu dengan rombongan Aris Kesod. Selanjutnya adalah bersih-bersih badan, makan dan tidur.

Entah bagaimana kondisi mereka yang di atas (Borneo tim dan si sakit), karena sampai larut malam belum ada tanda-tanda kedatangan mereka.

Kamis,11 Mei 2006

Bangun pagi-pagi karena hawa dingin serta perut lapar dan aroma tempe goreng khas Wonosobo yaitu tempe kemul wkkk...kami mulai berbenah, mandi, packing dll.

Sambil berembug akan pulang jam berapa dan diputuskan pkl 11 kami pulang.  Berharap semoga rombongan Borneo bisa datang sebelum jam 11.

Tapi yang ditunggu tunggu tidak datang juga, menjelang pukul 11 nampak wajah lesu dari Azwar ( ikut rombongan Borneo) yang sampai duluan ke basecamp.

Dia membawa kabar kalau si sakit bertambah parah, sudah tidak sanggup berjalan (digotong pakai sleeping bag yang dililitkan ke batang kayu).

Foto di puncak Sindoro 2006
Dan diputuskan untuk rombongan yang sudah di basecamp silakan pulang duluan ke Kebumen, mengingat besoknya Jumat sudah masuk sekolah, serta diharuskan ada tim yang naik kembali untuk membantu evakuasi si sakit (Edi dan Aris naik kembali).

Bertindak cepat,karena waktu makin siang ditambah perkiraan sampai Kebumen sore. Azwar mencari carteran mobil pickup bersama saya di sekitar pemukiman penduduk, dan akhirnya dapat carteran juga

Menjelang kepulangan kami ke Kebumen, belum juga ada tanda-tanda kedatangan dari rombongan Borneo. Sementara Edi dan Aris sudah menyusul ke atas membawa kebutuhan tim (logistik,air,senter,dll).

Akhirnya dengan berat hati, kami ber 14 pulang duluan.. Sampai smanda pukul 17 lebih/menjelang magrib. Sudah ditunggu oleh pak Suyanto, beliau menanyakan kabar si sakit karena ortunya sudah menunggu di sekolah. Ditambah Bambang yang kesleo membuat pak Yanto geleng-geleng kepala.

Maafkan kami pak... menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya,akhirnya ortu si sakit pulang kembali ke rumah. Sedangkan saya, Azwar menginap di posko karena sudah malam. Bambang diantar oleh helmi (senior/kelas 3) pulang ke rumah.

Esoknya, Jumat 12 Mei 2006.
Saya sempatkan pulang ke rumah setelah shubuh, bgtu juga dengan Azwar Khamid. Dan balik lagi ke Smanda karena hari itu sudah masuk normal.

Tak lupa membuatkan surat ijin palsu (jangan ditiru ya :) ) untuk mereka yang masih di gunung (Edi, Aris, Nurul, Turyono, si sakit).

Saat sedang menerima materi pelajaran, saya sempat melihat beberapa anak berjalan di utara kelas yang tak lain adalah Edi cs bersama si sakit. Syukur alhamdulillah akhirnya mereka kembali juga di smanda.

Selepas bel pulang sekolah, segera saya menuju posko,dan menanyakan kabar mereka. Beruntung sekali semuanya selamat.

Ada pelajaran yang bisa kita ambil, yaitu untuk mempersiapkan pendakian secara cermat termasuk penanganan dalam keadaan darurat.

Tidak memaksakan seorang pendaki untuk bisa muncak ketika kondisinya tidak ideal melakukan pekerjaan berat yang menguras fisik dan psikhis.

Diperlukan adanya kerjasama tim dan juga management yang baik dalam setiap pendakian.

Jangan pernah kapok saat menghadapi situasi sulit dalam setiap pendakian dan selalu pertahankan tim + persahabatan.

Sekian...
.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)