27 Oktober 2016

Papandayan, Berkesan Banget Tapi Masih Bingung

Yes Outdoor : Malam itu ceritanya den Baguse Hari Satria curhat tentang pengalamannya ke Papandayan. Sayang sekali saya gak bisa ikut gabung dengan dia dan rombongannya, karena saat itu sedang ada event identik ke lain tempat.

Sebelumnya doi udah merasakan keindahan gunung Gede. Ups jadi inget kasusnya kakang Parman wkkk.

Nah, saat ke Papandayan mereka (Hari Satria, Kakaknya dan Hari Lehor) dari Jakarta berangkat menuju ke pool bus Primajasa yang.. ups.. katanya gak tahu dimana tuh, haha...

Okelah, anggap saja mereka telah menemukan pool itu dan setelah satu jam menunggu, akhirnya bus yang dinantikan datang juga. Bus yang akan mengantar mereka menuju Garut.

Sudah umum sih kalau bus Garut memang laris manis oleh penumpang, sehingga untuk naikpun mereka harus berebutan. Tas ransel mereka simpan di bagasi.




"Kepikiran juga sih selama perjalanan ketika bus berhenti menurunkan penumpang, mata selalu aktif ngawasin, jangan-jangan tasnya kebawa tuh, bisa celaka deh"
katanya.

Kata den bagus Hari, perjalanan dari Jakarta menuju Garut tuh 4 jam, karena seingat dia bus berangkat jam 10 malam dan sampai di terminal Guntur jam 3 an. Terus aku bilang ya 4 jam lebih sekian lah. Katanya, oh iya 5 jam, sambil manggut-manggut wkk

Perjalanan di Papandayan

Pokoknya sampai di terminal mereka seperti di luar negeri, karena bahasa yang digunakan kedengaran asing dan membuat mereka roaming untuk sejenak menerjemahkan sebihsanya untuk sedikit paham.

Asli, mirip di negeri asing. Bahasanya asing juga, cuma sering denger aing aing dan atuh wkkk..



Sejenak kemudian mereka menuju sebuah mushola untuk sekedar istirahat, sholat subuh juga ngopi. Ketika yang lain asik ngobrol sambil ngopi, den Baguse Hari malah tertidur pulas.. hmm.. pantesan badan segede gaban wkkk.

Setelah shalat subuh, mereka melanjutkan perjalanan menuju Papandayan.

"Kesurupan a?". "Hah?" kata den Bagus denger ada orang menanyakan kesurupan a? "Siapa yang kesurupan?" den Bagus berfikir keras!

"Bukan kesurupan a, tapi mau ke Cisurupan a?" Den Bagus baru tersadar jika yang menanyakan adalah kernet angkutan menuju Papandayan yang menanyakan apakah mereka akan ke Cisurupan. wkkk.. mandi bro..

Akhirnya mereka naik angkutan ke tanpa mencarternya, biar ngirit sih meskipun harus nunggu agak lama. Tapi akhirnya mereka meluncur juga ke Cisurupan.

Perjalanan sekitar satu jam ketika mereka sampai di sebuah gapura desa Cisurupan. Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil pickup setelah seorang supir menawarinya angkutan ke Papandayan.

"Mau ke Papandayan a?". "Iya atuh kang, masa ke Merapi?" wkkkk katanya.. Saya gak percaya deh kalau den Baguse Hari menjawab begitu. Paling juga cuma senyam senyum cengengesan yang bikin tuh sopir bingung wkkk.

Intinya dari sana mereka naik mobil tersebut, setelah menunggu penuh oleh pendaki yang lain. Dalam perjalanannya doi sempet kaget dengan jalur yang dilalui yang nanjak dengan jalanan yang alamaak.. rusak.

Setengah jam kemudian sampailah mereka di gerbang Papandayan. Kebetulan pagi itu loket belum buka dan rupanya status gunung sedang ditutup. Alamaak.. sempat bingung dengan situasi tersebut.

Akhirnya setelah diskusi dengan pendaki lain yang sama-sama naik mobil dari kesurupan, eh Cisurupan mereka memutuskan tetap lanjut. "Iya tetep lanjut kang!", katanya

Hutan Mati Gunung Papandayan

Tapi sebelum jalan, mereka berfoto ria dulu disekitar Camp David, naik menara pula mirip film action dah.

Setelah puas berfoto ria di sana, mereka segera bergegas untuk melakukan pendakian. Waktu itu kalau gak salah 1 Juni 2013.

Perjalanan bersama tersebut harus diakhiri karena rombongan memiliki arah yang berbeda, ada yang ke kawah dan rombongan den Bagus menuju ke arah Pondok Salada.

Medam gunung Papandayan tuh banyak memiliki batuan kerikil, mirip di area puncak-puncak gunung di Jawa Tengah. Kalau diinjek bisa bikin kepleset! Tapi saya gak kepleset, karena makai sepatu baru tuh wkkk.. sombong banget sih den Bagus yang pakai sepatu baru.

Sampai di jembatan mata air istirahatlah mereka sejenak disana, sesekali bertemu dengan penduduk sekitar yang sepertinya mau ke ladang, sebagian dari mereka ada yang menggunakan motor modifan oiiiy.. jadinya kuat nanjak deh itu motor.

Bahkan ada juga yang rodanya dikasih rantai. Alamaak.. den Baguse Haru jadi teringat motornya yang dilego wkkk.. "Asem dadi kelingan montorku sing di dol wkkk "

Setelah melakukan 2 jam perjalanan akhirnya sampai juga mereka di Pondok Salada. "Sebuah tempat yang sangat luas dan indah", ucapnya. Bikin betah berlama-lama disana.

Pendakian Gunung Papandayan

"Aduh gusti pengin kesana lagi ini
" katanya. "Pokoknya nyaman dah, kan udah ada toilet portable dengan air berlimpah bro". Den Baguse semangat banget ceritain tuh Pondok Salada.

"Situasi di sana saat itu lagi sepi kang. Cuma ada kami dan beberapa pendaki saja dilokasi yang indah itu. Akhirnya tenda berdiri, memasak makan deh.. Sepi benar, tenda pun berjauhan"
.

Singkatnya mereka seharian disitu, ngobrol ngalor ngidul, nyantai dan foto-foto sama Hari Lehor. "Sebenarnya saya pengin motret kakak saya yang lagi tidur kang, tapi gak jadi hehe" kata den Baguse Hari.

Menyambut malam hari den Baguse mencari kayu bakar alias repek untuk membuat api unggun. Kemudian, mereka menyalakan api unggun tersebut. "Benar-benar free rasanya kang"


Den Baguse Hari Satria semangat banget cerita tentang keindahan Papandayan

"Asli disana seger banget, saya beberapa kali ngambil air dan wudhu disana. Benar-benar sebuah gunung yang memanjakan pengunjungnya dengan pemandangan dan air yang melimpah. Jadi gak ada istilah gak wudhu dan sholat. Kan airnya banyak"

Pagi harinya, Minggu 2 Juni 2014 Hari Lehor membuat roti bakar dan minuman serta masak mie kuah tuh, karena kita gak bawa beras. Jadilah sarapan pagi yang nikmat.

Sekitar jam 9  kita bongkar tuh tenda dan melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Tegal Alun tuh semacam padang edelweis ya. Pokoknya banyak banget edelweis tumbuh disana.

Perjalanan ke Tegal Alun terasa cukup melelahkan karea langsung nanjak selepas Pondok Salada. Tapi gak butuh waktu lama lah, apalagi sesampainya di Tegal Alun lagi-lagi kita mendapatkan area yang landai.

Jadi, naik ke Papandayan tuh sebenarnya nyaman banget wkkk..

Jepret sana sini sampai pose gak karuan, pose gak jelas selama di Tegal Alun. Oia, sebenarnya saya (Den Baguse Hari) masih bingung nih tentang puncak Papandayan. Sebenarnya tuh yang mana? Mungkin kang Jo tahu ya?

Yang jelas waktu masuk hutan setekah Tegal Alun kami masuk area seperti puncak tapi gak ada tugu atau tanda sama sekali yang menunjukkan itu puncak kang?

Asli bingung euy! Pokoknya setelah puas di Tegal Alun kami melanjutkan perjalanan kembali mengikuti jalan setapak yang membawa ke Hutan Mati.
Woww.. pemandangannya..

Dari Hutan Mati, kami terus melewati kawah dan sampai kembali di Camp David siang harinya.

Nah itulah dongen dari den Baguse Hari Satria yang ke Papandayan, bisa menikmati keindahannya tapi masih aja bingung. Pokoknya itu katanya salah satu perjalanan yang sangat berkesan untuk Den Baguse Hari karena berasa nyaman banget.

Doi nanya lagi, seperti apa ya sekarang setelah sempat dikelola pihak swasta dan sempat terjadi huru-hara juga disana?
.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)