07 Oktober 2016

Latepost Pendakian Gunung Slamet - Nyasar Abis!

Yes Outdoor : Kembali saya den Baguse Hari Satria ingin berbagi salah satu kisah pendakian yang pernah saya lakukan di gunung Slamet. Sebenarnya sudah lama ini kisahnya, tapi gak ada salahnya saya berbagi cerita sebagai pembelajaran untuk saya sendiri maupun semua yang membaca cerita ini. Saya pernah mengisahkan pada kang Jo saat naik ke Slamet 2014 kemarin, tapi cuma curhat dikit doang sih hehe..

Cekidottt..


Waktu itu saya masih bekerja di SPBU tempat dimana kang Jo pernah menghampiri saya untuk pulang bareng saat dia mendarat dari ibukota. Sebuah surprise yang saya bayar dengan surprise pula karena montore wis di doll hahaha.

Lanjut..


Setelah pulang kerja dari sift malam, sampai rumah langsung packing untuk pendakian ke gunung Slamet. Sebelumnya saya sedikit ceritakan dulu tentang ajakan naik ke gunung Slamet ini adalah ide dari teman seangkatan saya di Gaspala yaitu : Edi dan Aris Kesod Matetot.

Latepost Pendakian Gunung Slamet - Nyasar Abis!
Foto kenangan di gerbang pendakian


Mereka ngajakin ke Slamet, tapi masih kurang rame karena baru dapet 6 orang (Edi, Aris,Anwar, Oji, Sulton, Indra) untuk 2 anak terakhir bukan anggota Gaspala, tapi teman seangkatan di Smanda dan yang sudah pernah kesana baru Aris dan Edi.

Mungkin karena hal itulah mereka ngajak saya untuk bergabung. Sebenarnya saya paham maksud dari Aris Kesod Matetot adalah untuk berjaga-jaga jika mereka butuh tenaga porter extra, sehingga ngajak saya. Tapi it's Ok (dalam hati waktu itu), tapi saya sendiri ngajak juga kakak saya dan teman, biar kalau saya capek ada yang merhatiin saya wkkk.. just kiding bro.. sist. Jadi ketambahan kami bertiga nih pasukan pendakian ke Slamet ( saya, kakak, kang Sus).

Terbagilah menjadi 2 kelompok. Edi cs dan Saya cs. Edi cs berangkat duluan ke basecamp pagi itu, karena mereka naik motor yang dibelikan bapake & si mboke mereka. Sementara regu saya agak siangan karena masih harus siapin ini itu, apalagi tahu sendiri saya baru pulang ship malam.

Singkat cerita kami semua bertemu di basecamp Slamet via Bambangan pukul 20.00 Wib. Setelah repacking ulang, kami segera naik malam itu juga. Entah di awal berdoa / tidak, saya sendiri sudah lupa karena itu pendakian tahun 2008 silam.

Yang jelas di gerbang pendakian, kami sempat berhenti karen bingung ada 2 jalur. Si leader Aris Kesod Matetot sudah mengecek ke kanan, tapi katanya bukan jalur (padahal inilah yang sebetulnya harus dilalui). Jadilah kami ber 9 mengambil jalur kiri gerbang pendakian.

Baru beberapa meter sebenarnya kami sudsh curiga karena jalur setapak tidak terlihat sm sekali. Tetapi positif thinking, mungkin sudah lama tidak dilewati. Begitulah yang ada di benak kami. Benak 9 orang yang sangat kompak haha... Dan bekas-bekas sampahpun hampir tidak ditemukan, padahal konon salah satu tanda jalur pendakian gunung di Indonesia adalah adanya tanda-tanda sampah sisa pendaki, tapi kami tetap saja terus berjalan.

Entah berapa lama kami berjalan, saat diputuskan untuk berhenti istirahat, kami melihat ke arah punggungan di kanan kami banyak senter yg mengarah ke kami,sepertinya pos 1 Pondok Gembirung. Dari sana juga terdengar suara kentongan. Kami semua tidak merespon hal tersebut.

Latepost Pendakian Gunung Slamet - Nyasar Abis!
Wajah-wajah kusam dan lusuh. Edi pingin nangis ya Ed?


Setelah meeting wkk.. kami lanjutkan naik lagi. Edan!! Benar-benar bukan jalur, tapi anehnya kami lanjut terus (Sepertinya kami mulai kehilangan akal sehat). Hampir sepanjang jalur tersebut tertutup sarang laba-laba, banyak dahan menutup, tanah yang gembur! Yang pasti harusnya kami sadar, karena ini tentunya keliatan aneh.

Dari situ kami mulai sadar, sepertinya salah jalur nih.. Kami berandai-andai, semoga di atas jalur yang kita lewati ini bertemu dengan jalur yang benar, maklum kami sadar, kami sesat. Seperti itu di pikiran kami.

Sekitar pukul 2.00 dinihari, kami putuskan untuk ngecamp, dengan mencari lokasi di medan yang sangat memprihatinkan dan sebenarnya tidak layak untuk ngecamp. Dua tenda coleman berdiri. Karena kami ber-9 sedangkan tenda cuma 2, otomatis gak cukup nih.

Saya di tenda bersama kang Sus, kakak saya dan Aris Kesod Matetot. Sementara tenda satunya di isi 5 orang (Edi cs).

Mungkin karena capek dan tenaga mulai terkuras serta mental yang mulai stress dengan keadaan dan pilihan jalur yang kami lewati, akhirnya.. terlelap.. Tidak ada kejadian aneh sih yang kami rasakan malam itu seperti kisah ahengnya kang Jo di Sumbing, lagi pula saya juga benar-benar tertidur pulas malam itu. Seperti ngimpi survival juga saat itu, tapi iya gak ya? hehe..

Paginya.. kami bangun setelah matahari mulai menembus rapatnya vegetasi hutan gunung Slamet. Sarapan dll sambil berembug alias meeting akan bagaimana setelah ini. Kami putuskan tetap naik lagi dengan perkiraan jalur akan bertemu dengan jalur resminya.

Sekitar pukul 9 kami lanjut..
Benar-benar bukan jalur ini sih, setelah terang benderang alias kelihatan dengan mata telanjang. Samping kanan kiri pohon besar dan berlumut. Sementara sarang laba-laba hampir di semua tempat ada. Dan yang paling ngeri, terlihat banyak bekas kubangan semacam bekas babi hutan mandi di lumpur.

Kami tetap berjalan naik.. sering juga terdengar suara hewan-hewan disekitar jalan yang kami lewati, mungkin lutung ya.. tapi suara tersebut seperti mengikuti kami terus. Hii.. kalau itu bukan lutung.. hii.. ah, sudahlah


Latepost Pendakian Gunung Slamet - Nyasar Abis!
Oknum penyelongan - Aris Kesod Matetot, Edi pasang aji-aji ya Ed?



Ketika waktu menunjukan tengah hari, sekitar pukul 11.30 seingat saya, kami kembali beristirahat karena masuk waktu dhuhur alias bedug.

Sambil membuka bekal makanan, kami berembug alias meeting lagi bagemana selanjutnya..
Tanpa kami sadari, saat berembug itu kami sudah berdiri bukan di atas tanah melainkan akar-akar pohon besar.. dan di depan sana, sekitar 10 meter dari lokasi kami istrhat, jalur sdh buntu karena jurang menganga di depan. Tidak mungkin untuk meneruskan perjalanan!!!

Akhirnya dengan sedikit rasa sesal, kami sepakat untuk turun kembali, kemudian menyeberang lembah dan naik ke punggungan di kanan kami. Setelah menemukan lembahan yang sekira "aman", saya ambil inisiatif untuk pertama kali turun. Dengan berpegangan pada oyod atau akar-akar pohon yang terjuntai (semacam ayunan tarzan auooo..).

Saya sudah dalam posisi siap turun. Mereka semua sedikit heran dengan saya, karena terlihat wajah mereka bingung. Lalu saya tanyakn, "Apa ranselnya saya jatuhkan dulu untuk tahu kedalamannya?" Begitu bro.. sist. Tapi mereka menolak dan meraih tangan saya untuk kembali ke tempat aman. Bisa jadi seperti.. ah, sudahlah..

Setelah diberi penjelasan, saya baru sadar, kalau lembah di bawah tersebut kita tidak tahu dalamnya dan dengan menerjunkan ransel adalah hal bodoh. Akhirnya saya sadar. Rasa putus asa sepertinya mulai menghampiri kami, akhirnya dengan penuh rasa gak jelas kami semua turun melewati jalur semalam.

Berjalan dengan rasa penyesalan karena gagal muncak... Tp disepanjang perjalanan kami masih bisa sedikit bercanda, misalnya ketika diantara kami ada yang terpeleset jatuh dll. Di perjalanan turun itu si sweaper yang kini di isi Aris Kesod Matetot. Dia sering merasa merinding, karena posisi paling belakang, mendengar suara-suara hewan yang seakan mengikuti kami, atau mengetawakan kebodohan yang kami lakukan. Apalgi kalau melewati jalur yang mirip bekas kubangan babi, rasanya tambah deg degan aja katanya, padahal feeling saya sih "Dia mulai lapar  dan ingin cepat-cepat sampai di Jintung!" wkkk.

Beruntungnya kami, menjelang sore sudah menemukan aliran air yang sepertinya menandakan sudah dekat dengan lapangan sepakbola di jalur resmi. Disitu kami benar-benar baru merasa lega.. Setelah hampir seharian berkutat di hutan lebat dengan kabut yang cukup tebal ditambah suara hewan-hewan asing yang kami dengar hampir sepanjang jalan. Kalau itu binatang carnivora prasejarah, mungkin kami sudah habis dikunyah-kunyah wkkk..

Ambil beberapa foto untuk kenang-kenangan.
Bersyukur sekali kami semua bisa sampai di basecamp menjelang magrib dengan selamat. Dengan disambut ucapan khawatir oleh ibu pemilik basecamp, kami ceritakan semuanya.. dan beliau teryata sudah ada firasat buruk kepada pendaki gunung Slamet (kami).

Beruntung sekali Kami selamat. Karena menurut cerita beliau, di jalur yang kami lalui tersebut ada penunggunya seekor ular raksasa seberas drum. Silakan percaya atau tidak. Dan di jalur tersebut dulunya pernah dirintis oleh mapala (saya lupa mapala mana),namun tdk menemukan jalurnya.

Dan malam itu juga kakak saya dan Aris Kesod Matetot si biang kerok baru bercerita kalau malam saat kita ngecamp, mereka berdua mendengar suara langkah kaki (entah manusia atau hewan) mendekati tenda kami.

Seketika mereka segera menutup pintu tenda dan tidur. Dari bayangan di dalam tenda (di luar api unggun msh tersisa),terlihat seperti mendekat namun tidak tahu pasti siapakah dia.

Itulah sekelumit kisah pendakian saya yang terselong alias nyasar di gunung Slamet. Dari sana kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini, diantaranya adalah :

1. Pastikan jalur yang kita lalui adalah betul
2. Ajaklah orang yang pernah naik dan memahami jalur pendakian di gunung tersebut
3. Jika belum ada yang pernah, tanyalah ke penduduk sekitar/basecamp sebelum berangkat
4. Jika masih ragu, kita bisa menunggu rombongan pendaki lain yang juga kan mendaki
5. Pilihlah waktu pendakian yang ideal
6. Pemahaman navigasi darat sangat diperlukan
7. Pahami kode-kode darurat di alam (kentongan, sinar senter, morse dll)
8. Dalam keadaan genting, pikirkan tindakan ke depan berakibat apa / identifikasi bahaya dan resiko (saat mau terjun ke lembah)

Sekian dari saya, semoga bermanfaat.
.

4 komentar:

  1. "Apa ranselnya saya jatuhkan dulu untuk tahu kedalamannya?"

    👆👆👆 masih terngiang jelas. Hahaha
    Nek sida ketone wis wassalam koe gog 😂
    Tulisane keren lah gog, lanjutkan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bgog lagi menyenang masa lalu jarene Ed.. masa sing kelam wkk.. jatuhkan saja badanmu Gog wkkk

      Hapus

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)