10 Oktober 2016

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing

Yes Outdoor : Masa lalu merupakan suatu kenangan. Dalam kenangan tersimpan suatu pesan dan pelajaran.

Maka jangan sampai melupakan masa lalu dan pelajaran yang ada, karena itu merupakan salah satu fase dimana kita pernah berada disana untuk diambil hikmah, nilai positif dan tinggalkan hal negatif yang pernah ada.

Kali ini, saya den Baguse Hari Satria coba untuk mengingat salah satu pendakian masa lalu bersama teman-teman semasa SMA dulu di gunung Lawu dan Sumbing. Tapi kali ini untuk catper gunung Sumbing dulu yaa..

Semoga saya pribadi bisa mengambil hikmah dari pengalaman itu dan semoga juga bisa menjadi suatu pelajaran untuk siapapun yang membaca kisah klasik pendakian Lawu dan Sumbing

Pendakian spartan nih ceritanya, cekidot brader & sister

Setelah berusaha mengingat kembali kenangan masa lalu,akhirnya saya lanjutkan untuk menulis catatan perjalanan pendakian perdanaku, yang mana waktu itu ke gunung Lawu ( catper lawu belum dipublish nih ) dilanjut gunung Sumbing (9-13 April 2006).

11 April 2006
Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Santap Malam


Pagi itu di basecamp gunung Lawu jalur Cemoro Sewu masih terasa dingin dan lembab karena guyuran hujan semalam. Kami ber-6 yang diantaranya adalah Pasukan Nyasar Gunung Slamet (Edi, Aris Kesod, Turyono, Hamid,Ryan & saya sendiri) memutuskan untuk sarapan dengan memasak sendiri, dari sisa perbekalan yang kami bawa.

Menunya sidah sangat biasa bagi kaum pelajar seperti kami pada saat itu, mie instan ditambah nasi.

Alhamdulillah..
Selesai makan dan beres-beres, segera kami packing serta membeli oleh-oleh dari gunung Lawu (kaos,stiker,gantungan kunci) karena kami masih harus melanjutkan perjalanan ke wonosobo,tepatnya desa Garung, basecamp gunung Sumbing.

Setelah berpamitan, langsung meluncur ke terminal Tawangmangu menggunakan angkutan L300. Di tengah perjalanan, pak supir menawarkan kepada rombongan kami untuk diantar langsung ke terminal Tirtonadi tentunya dengan harga lebih mahal dari trayek aslinya yaitu basecamp -Tawangmangu.

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Berdoa sebelum mendaki

Kamipun berunding dan setuju untuk langsung ke terminal Tirtonadi. Sampai di terminal, kami lanjutkan perjalanan dengan naik bus patas Eka. Oh ya, naik bus Eka kami anggap sepagai bonus (itung-itunh ngrasain naik bus enak seperti teman-teman yang lagi study tour ke Bali).

Kami memang memilih untuk tidak ikut study tour ke Bali dan lebih memilih pendakian gunung Lawu dan Sumbing sebagai gantinya. Gimana? Keren gan bro.. sist? hehe..

Kami ber-6 duduk manis di kursi belakang. Kurang lebih setelah dhuhur sampailah di Magelang. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan menuju Wonosobo menggunakan minibus.

Turun di depan BRI Garung, kami melangkahkan kaki menuju beskem ( apa basecamp ya nulise? kalau nulisnya beskem harap dimaklum ya bro.. sist..) gunung Sumbing.

Nampak jelas tertulis Basecamp Gunung Sumbing di sebuah rumah di kiri jalan. Bangunan rumah yang cukup luas untuk sebuah beskem. Setelah registrasi, segera bongkar perlengkapan.

Oh iya, waktu registrasi ada sekelompok pendaki yang naik namun tidak mendaftar, sempat diingatkn oleh penjaga basecamp, namun mereka beralasan hanya ngecamp di pos saja, tidak ke puncak.

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Tatib Pendakian Gunung Sumbing

Sebuah contoh yang tidak baik tuh, jangan diikuti hal-hal seperti itu. Percayalah, kita tidak akan rugi hanya untuk mendaftarkan diri dan membayar sejumlah uang retribusi, karena itu salah satu legalitas dan kita juga akan terdaftar resmi sebagai pendaki gunung Sumbing atau gunung lainnya yang kita daki.

Malam itu kami memesan nasi di basecamp, seingat saya menunya nasgor dan nasi telor sambal. Terasa nikmat sekali untk disantap di daerah berhawa dingin. Nyam nyam... cleguk.. cleguk.. grauk.. grauk..

Setelah sholat isya, kami siap untuk berangkat. Oh ya dulu sebagian nesar pendakian dilakukan saat malam hari, supaya bisa ngejar surrise. Tak lupa kami pamit kepada pemilik basecamp, maklumlah, kami adalah serombongan pemuda baik hati dan sopan hehe..

Pendakian diawali dengan doa bersama di depan basecamp sebelum memulai perjalanan malam itu.

Medan yang masih berupa jalan aspal serta rumah pnduduk di lewati selama kurang lebih setengah jam. Kalau kang Jo, melewatinya dalam 10 - 15 menit, karena ngojek dia wkkk... pendaki kok ngojek? wkkk..

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Camp kami nih bro.. sist..
Memasuki areal ladang dan perkebunan, jalur mulai berubah. Terdapat jalur lama dan baru, kami memilih jalur baru (saat itu). Entah berapa lama dan jauh melangkah, (karena saya lupa untuk rincian perjalanan ini) dengan diselingi istrhat dan foto-foto untuk dokumentasi perjalanan.

Perlu diingat ya? Saat itu belum ada facebook  atau sosial populer seperti saat ini, jadi kami foto memang benar-benar untuk sebuah dokumentasi perjalanan bukan untuk narsis-narsisan di sosial media ya bro.. sist.. hehe

Ingat ya.. bikin dokumentasi perjalanan / pendakian setiap kali kita mendaki, karena bisa digunakan sebagai media pembelajaran untuk kita dan juga orang lain yang akan melewati jalur / perjalanan yang sama dengan kita.

Akhirnya kami bertemu dengan kelompok pendaki yang sore tadi naik tanpa melakukan registrasi alias ora mbayar!!! Diputuskan untuk ngecamp disitu, dengan pertimbngan waktu yang sudah larut malam, serta tenaga kami yg mulai drop (maklum saja, kan habis dari lawu) zzzz......

12 april 2006
Bangun tidur terasa lebih segar, hanya saja tenaga masih terasa kurang,hehehe kan belum sarapan. Dengan menu nasi bungkus dari basecamp, kami ber-6 sarapan di dalam tenda.

Selesai makan, segera packing untuk persiapan naik dengan target sampai puncak siang hari. Setelah sesi foto bersama pendaki yang lain, kami berpamitan untuk lanjut mendaki. Sekali lagi saya ingatkan, kami ber-6 adalah sekelompok pemuda baik hati wkkk...

Langkah demi langkah kami pijakkan di jalur pendakian gunung Sumbing yang pagi itu berkabut. Asli, berkabut.

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Track pendakian gunung Sumbing dikenal licin

Sampailah di pestan yang merupakan pertemuan antara jalur lama dan baru. Istirahat sejenak disitu. Bertukar cerrir apa carrier ya? wkkk Menikmati cemilan, minum bekal air mineral sambil menikmati pemandangan.

Disini areanya mulai terbuka, dengan tanaman khas ketinggian seperti lamtoro. Kamipun melanjutkan kembali perjalanan siang itu. Selang beberapa saat berjalan kami sampai di pos Watu Kotak, menyempatkan foto bersama distu.

Sayangnya saya yang kebagian jatah motret, jadi gak ikut nampang di Watu Kotak deh.. haha.. Padahal ada fungsi timer ya? Tapi kok bisa gak kepikiran sih? Slendem sekali wkk..

Nampak cuaca siang itu mulai berubh menjadi mendung, namun kami tetap melanjutkn perjalanan sambil berharap semoga hujan tidak turun. Tapi apadaya, hujan turun dengan derasnya.

Menghadapi situasi yang demikian, kami sgera memakai raincoat masing-masing, sebagai peralatan wajib. Dengan perkiaraan puncak tidak lama lagi (padahal brlum tahu pasti), kami tetap lanjut ditengah guyuran hujan menerpa tubuh kami.

Sampai akhirnya kami berhenti untek skedar melepas lelah, duduk... dan tertidur.. zzz.... Entah bagaimana jadinya bila salah satu dari kami tidak ada yang bangun, bicara dan mengajak untuk turun. Minimal bisa kena hipotermia dah..

Sungguh sangat bahaya dalam kondisi terguyur hujan dan tidak ada pergerakan. Setelah berunding, kami putuskan untuk berteduh dan membuat api unggun di bawah dinding batu yang terdapat cekungan.

Entah itu pos atau bukan, sepertinya bukan, tapi bisa gami gunakan untuk istirahat dan mengganti pakaian yang basah dengan yang kering serta menghangatkn tubuh di api unggun yang berhasil kami nyalakan.

Kembli kami berunding, bila lanjut setelah hujan reda, kemungkinan smpai puncak sore, belum lagi untuk perjalanan turun. Akhrnya dengan berat hati, saya yang waktu itu ingin sekali melanjutkan, terpaksa manut (mengiyakan) dengan keuputusan tim saja.

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Disini kami abadikan pencapaian kami di gunung Sumbing

Kami putuskan turun dengan rintik hujan yang masih menetes, menyempatkan ambil foto sebagai obat pengganti foto di puncak.

Perjalanan turun dilalui dengan berlari, karena kami semua tidak ingin terjebak dalam gelap malam. Tentu saja banyak dari kami yang sering terpeleset, karena jalur jadi semakin licin oleh lumpur dan air hujan.

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Wajah kusam gagal muncak, Aris Kesod mewek ya?

Namun itu tidak menyurutkn semangat kami untuk terus berlari cepat sampai basecamp,hehehe...

Menjelang magrib, kami sampai di areal perkebunan. Lega sekali rasanya.. seolah terobati rasa capai dan stress ketika mendaki dan memutuskan turun sebelum berhasil sampai puncak.

Dengan langkah gontai, tubuh yang kotor, beban carrier yang terasa makin berat, kami menuju beskem. Jangan tanyakan tampang kami saat itu, karena pasti sangat lusuh dan susah dipercaya kalau dikatakan kami adalah sekelompok pemuda baik hati wkkk..

Alhamdulillah..
Adzan magrib menyambut kedatangan kami di basecamo. Langkah pertama tentu saja bersih-bersih dengan 2 kamar mandi yang tersediasecara bergantian. Air terasa dingin seperti es mengguyur tubuh, brrr....

Selesai bersih-bersih,sholat, segera pesan makan kepada pemilik basecamo. Menu yang ada disini memang hanya nasgor dan nasi telor (pada saat itu, tapi jangan kaget kalau sekarang sudah ada steak, pizza atau spageti, tapi bikin sendiri yak wkkk..).

Alamaak.. jadi kangen gunung Sumbing deh, dah berapa tahun yaa gak kesana lagi? Ajak kang Jo mau gak kesana? Siapa tahu bisa mendapat kisah aheng lagi, biar naiknya cepat wkkk...

Makan dengan lahap, seperti wedus bandot dikasih rumput, diselingi canda tawa serta foto-foto konyol oleh tim gagal muncak wkk...

Selesai mengisi perut, kami mulai menggelar sleeping bag, persiapan untuk tidur. Nampak si Ryan mencoba menghubungi ortu serta teman kami lainnya di Kebumen. Oiya, waktu itu cuma dia yang punya HP. Gak tahu beli pakai duit darimana dia? Hmm.. jangan-jangan pakai uang SPP sekolah ya? wkkk..

Kisah Klasik Pendakian Gunung Sumbing
Grauk.. grauk.. cleguk.. cleguk..
Menutup malam yang dingin, kami tertidur dengan pulas. Pagi berikutnya kami  melanjutkan pulang ke Kebumen, sekolah kami, keluarga kami.

Benar-benar sebuah hari-hari yang melelahkan, banyak kenangan, suka duka bersama kami lalui dari tanggal 9-13 April 2006.

Terimaksh untuk kalian teman, karena pendakian inilah awal aku menyukai naik gunung sampai sekarang.

Sekedar ingin mengingatkan, bahwa puncak bukan suatu kewajiban, tapi akal sehat dan keselamatan serta hidup adalah suatu hal yang harus kita gunakan dan dipertahankan.
Sekian.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)