14 Desember 2015

Pelajaran Dari Salak - MAUT DI KETINGGIAN SUNYI (Gn. Salak, 1987)

Yes Outdoor : 

Masih merinding tiap membaca kisah ini, Auramu tak pernah berubah dari waktu ke waktu :

~ MAUT DI KETINGGIAN SUNYI (Gn. Salak, 1987) ~

HINGGA Selasa pagi pekan itu, dua liang masih menganga terbuka di Taman Pemkaman Umum (TPU) Penggilingan, Rawamangun, Jakarta. Itulah pertanda bahwa Irvan Supandi dan Ahmad Rudiat masih berada jauh tinggi di sana, di Gunung Salak, entah mati entah hidup. Itu juga berarti ratusan pecinta alam masih terus menyusur Sungai Cibadak di gunung itu, tempat jenazah rekan mereka -- yang sudah mengisi empat kuburan baru di sebelah kedua liang kosong tadi -- ditemukan dalam keadaan mengenaskan.

Sebuah akhir cerita hidup yang menyedihkan, memang. Padahal, tak ada firasat buruk muncul di awal pendakian nahas ini. Ia bermula ketika delapan siswa kelas dua STM Pembangunan Jakarta Timur mencari ide untuk mengisi hari libur yang tiba-tiba menubruk mereka. Pasalnya, pada hari Jumat, 20 Februari lalu itu, sekolah mereka kebanjiran hingga tak ada kegiatan belajar. Ditambah lagi keesokan harinya para guru berniat mengadakan rapat, yang menyebabkan murid bebas belajar. Wajar jika di pagi itu tiba-tiba muncul ide untuk mendaki Gunung Salak keesokan harinya. Secara spontan, perencanaan pun didiskusikan dan kata sepakat dicapai untuk berkumpul di depan sekolah esok harinya, pukul 8 pagi. Adalah nasib jua yang membuat Yumarsanto, 17, ternyata terlambat bangun. Toh ia masih mencoba pergi ke tempat rendezvouz tersebut. Tapi ia cuma menjumpai tukang mi langganan mereka, yang menginformasikan bahwa ia telah ditinggal.



Belakangan, Yumarsanto mengetahui ia tak sendirian. Boyke Zulkarnaen, yang tadinya juga merencanakan berangkat, ternyata, urung ikut. Alhasil, hanya 6 orang yang berangkat: Ahmad Rudiat, 19, Chaerudin, 18, Eddy Pujianto, 18, Irvan Supandi, 16, Mulyadi, 19, dan Wisnu Herwanto, 18. Besar dugaan, Ahmad Rudiat alias Adit menjadi pemimpin tak resmi rombongan ini. "Kata teman-temannya, ia memang paling berpengaruh," tutur Djukardi Adriana alias Bongkeng, anggota Wanadri yang menjadi on scene commander operasi SAR di Gunung Salak ini.

Adit memang punya modal untuk memimpin. Hanya dia dan Mulyadi yang anggota resmi pecinta alam di sekolah mereka, karena itu berhak memakai syal segitiga biru berinisial klub itu. Lagi pula, ia berpengalaman mendaki Gunung Cermai di Cirebon dan Gunung Gede--Pangrango di kawasan Puncak. Hingga, ayahnya pun Letkol Drs. A.R Sabirin, mudah saja memberi izin anaknya mendaki Gunung Salak kendati istrinya keberatan. "Dia cuma minta uang Rp 6.000 dan bilang hari Minggu sudah pulang," kata Sabirin. Agaknya, kepemimpinan Adit yang dibantu Mulyadi ini yang menyebabkan rombongan kemudian memilih jalur pendakian yang tak umum.

Alasannya, memang, khas anak muda. Mereka tampaknya ingin membuat jalur pendakian baru menuju pancuran tujuh, yaitu air terjun dekat puncak Gunung Salak yang masih jarang dikunjungi orang. Mulyadi pernah merintis rute ini, Desember 1986, tapi sampai di pancuran ketiga kehabisan perbekalan. Maka, terpaksa perintisan rute ditangguhkan dan rombongan Mulyadi saat itu turun kembali. Tapi mereka sempat meninggalkan tanda berupa ikatan tali rafia biru di pohon yang mereka lalui.

Rencananya, klub STM mereka yang bernama Teknik Pembangunan Pencinta Alam (Tepepa) akan melanjutkan penelusuran. Ketua Tepepa, Kelly Daryono, merencanakan melakukan ekspedisi ini sehabis pemilu nanti, dan rute itu akan di namakan rute STM Pembangunan. Ada dugaan, rombongan Adit dkk. ini ingin mendahului Kelly. Maklum, menurut rekan-rekan mereka, kedua siswa ini memang bersaing. Sayangnya, semangat kompetitif yang sehat itu tak didukung persiapan yang matang.

Perlengkapan mereka sangat tak memadai untuk ekspedisi membuka jalur baru: tak ada kompas, pakaian, dan makan yang mencukupi. "Yang paling fatal, sebagai pendaki yang ingin menemukan rute baru, mereka tak membawa peta," kata Bongkeng. Perbekalan diperkirakan hanya disiapkan untuk dua hari, sedangkan pakaian pelindung hujan terabaikan.

Mulyadi, misalnya, berangkat dalam pakaian seragam sekolah dan tak membawa jaket. Belakangan terbukti, hal yang kelihatan sepele ini menjadi penyebab utama perjumpaan mereka dengan sang maut. Padahal, medan Gunung Salak tergolong sulit. Banyak lembah dan jurang, dengan sungai berair terjun yang diapit dinding yang curam. Di dinding curam ini ada hutan-hutan yang ditumbuhi rotan, belitan tamiang (pohon rambat), dan onak.

Hingga saat ini, masih belum jelas bagaimana sebenarnya rute yang mereka tempuh. Bila mereka meneruskan jalur rafia biru, berarti mereka masuk dari Sukamantri dan terus naik ke arah selatan, hingga ikatan rafia biru itu habis. Ini berarti mereka telah mendaki sekitar tujuh jam. Mungkin mereka lalu meneruskan perjalanan menerabos semak ke selatan. Ini terbukti dari ikatan rafia kuning yang mereka tinggalkan. Sementara itu, terjalnya pendakian mungkin memaksa mereka mengarah ke barat daya. Bisa jadi, di ujung ikatan rafia kuning ini ditemukan -- sekitar satu setengah hari pendakian dari Sukamantri -- mereka mulai tersesat.

Entah karena kehabisan tali rafia kuning sebagai petunjuk atau mereka tergoda untuk menuruni gunung ke arah timur. Maklum, arah itu sekilas terlihat landai dan lampu perumahan di lereng gunung dapat terlihat jelas. Bisa dibayangkan, dalam kondisi lelah, lapar, dan kedinginan, sinar lampu perumahan itu terasa mengundang mereka untuk segera datang. Tanpa peta, mereka tak menyadari bahwa di depan menghadang jurang yang dalam dan tebing yang terjal. Padahal, hujan terus mengguyur selama pendakian itu.

Suasana panik atau tergesa-gesa terkesankan dari ditemukannya banyak barang tercecer di daerah ini, seperti sarung tangan, sapu tangan, sumbu kompor, dan supermi utuh.
Apa yang terjadi sesudah itu memang masih sulit diduga. Letkol Sabirin mulai merasa waswas ketika anaknya tak kembali ke rumah hari Minggu, 22 Februari lalu. Sampai Minggu malam, Sabirin masih berharap anaknya tertidur kelelahan di rumah temannya.

Tetapi ketika esok siangnya Adit masih belum muncul, Sabirin mulai mengambil tindakan. Mula-mula, ia menghubungi orangtua Mulyadi, yang ternyata malah tak tahu anaknya mendaki gunung. Lantas, ia mencoba menghubungi rumah teman Adit yang lain. Tanpa hasil. Maka, Selasa pagi, 24 Februari, Sabirin mencari keterangan ke sekolah. Ternyata, pihak sekolah tak tahu ada muridnya yang mendaki Gunung Salak. Bahkan baru hari itu mereka tahu bahwa di kelas Adit ada enam siswa yang tidak hadir sejak Senin.

Alhasil, Sabirin langsung berangkat ke Bogor dan menghubungi Polsek Ciomas, di kaki Gunung Salak. Pengumpulan informasi pun dilakukan dari masyarakat sekitar dan didapat keterangan memang ada satu grup STM pergi mendaki, tetapi tak jelas dari STM mana. Lantas, dengan ditemani Kapolsek Ciomas, Letda Budi Setiadi, dan 20 penduduk, Sabirin mendaki Gunung Salak untuk mencari anaknya. Hasilnya nihil. Maklum, menyisir Gunung Salak memang bukan pekerjaan kaum amatir.

Atas saran Kapolsek, Sabirin pun segera menghubungi SAR pusat, di Jakarta, dan awal pencarian besar-besaran terhadap keenam pendaki itu pun dimulai. Sayang, awalnya kurang menggembirakan. Pasalnya, mereka mendapatkan informasi dari kelompok Wanadri Jakarta dan SMAN 8 Jakarta yang mendaki pada hari yang sama dengan Adit dkk. bahwa mereka bertemu dengan kelompok STM antara Warung Loa dan puncak Gunung Salak.

Karena itu, pencarian pun dilakukan sekitar Warung Loa itu. Baru pada 1 Maret tim SAR menyadari bahwa grup STM itu bukanlah Adit dkk. Hal ini terungkap setelah Kelly Daryono bersama tujuh anggota Tepepa lainnya dan seorang guru merintis jalur Sukamantri. Mereka malah kemudian tersesat. Untung, hubungan radio handy talky yang mereka bawa dengan posko SAR bisa terjalin. Mulanya, mereka disarankan untuk menunggu regu penjemput, tapi Kelly dkk memutuskan mencoba jalan sendiri. Dibimbing dengan hubungan radio komunikasi itu, akhirnya, mereka sampai di posko SAR.

Dari penuturan Kelly inilah tim SAR menyadari kekeliruan mereka. Apalagi Kelly dkk. berhasil pula menemukan jejak yang meyakinkan, seperti tulisan "MUL" (dari Mulyadi) di tepi sungai. Beberapa pihak menyayangkan Kelly tak melaporkan ini lebih dini. Namun, ada juga yang heran mengapa tim SAR percaya begitu saja bahwa Adit dkk. mendaki dari Warung Loa. "Memang, data yang masuk dari Warung Loa itu yang membingungkan dan kami terlambat mendengar mereka masuk dari Sukamantri," kata Ir. Gustav Adolf "Ocim" Husein dari Wanadri. Walhasil, pengorbanan tim SAR berdingin-dingin dan berletih-letih selama seminggu di sekitar Warung Loa terhitung sia-sia belaka.

Dengan petunjuk baru yang lebih meyakinkan ini, daerah pencarian pun dipindahkan ke sekitar daerah habisnya rafia kuning. Sementara itu, pemberitaan media pun mulai gencar meliput upaya SAR ini. Dampak positif pemberitaan adalah mengalirnya sumbangan sukarela dari masyarakat baik berupa materi maupun tenaga sukarelawan yang bagai tak ada hentinya itu. Kendati jenazah yang ditemukan tim SAR 12 - 13 Maret lalu telah rusak parah, penemuan ini menghentikan perasaan tidak pasti yang mengimpit sanak keluarga mereka. sukarelawan baru terus berdatangan, termasuk tim Skygers yang dipimpin Harry Suliztiarto.

Tim manusia cecak, yang pernah menaklukkan tebing Eiger di Pegunungan Alpen, itu kini menyusuri jeram-jeram Sungai Cibadak untuk mencari Irvan dan Adit. Kehadiran mereka memang sangat diharapkan, mengingat jeram ini 80-an meter tingginya dengan keterjalan tinggi. Apakah mereka akan berhasil menemukan Adit dan Irvan, yang telah hampir sebulan ini berdingin-dingin di ketinggian nan sunyi, jauh di sana?

Akhir Cerita

GUNUNG Salak sepi kembali dari tim SAR. Akhirnya Sabtu pekan lalu dua terakhir, dari enam siswa STM Pembangunan yang hilang, sudah ditemukan. Dua jenazah yang ditemukan hari itu dipastikan sebagai Achmad Rudiat dan Irfan Supandi. Kedua siswa meninggal di ketinggian 1.375 meter sekitar 1 kilometer dari jenazah empat rekannya terdahulu, dipisahkan oleh dua punggungan bukit dan lembah yang terjal. Diduga, seorang siswa jatuh terpeleset di sungai, atau terempas dari punggung barat Sungai Cibadak. Rudiat dan Irvan mencoba mencari bantuan, sementara tiga rekannya menunggu.

Kelaparan dan kelelahan yang sangat membuat Chaerudin, Mulyadi, dan Wisnu tak kuasa bertahan. Mereka meninggal berdekatan di pinggir sungai berbatu yang lebarnya tak sampai 5 meter. Adit dan Irvan, mestinya sudah berhasil mendaki tebing 150 meter, dan tiba kembali di punggung barat Cibadak. Mereka menyisir punggung itu ke arah Loji di timur. Suara radio penduduk pun, dari ketinggian di situ, terdengar. Tapi, makin ke timur, mereka mendapati medan yang makin curam. Tentunya, mereka lalu bergerak ke barat. Celakanya, justru tebing-tebing di barat lebih curam. "Kalau mereka jalan ke selatan sekitar 100 meter lagi, pasti akan ketemu jalan setapak ke Loji," tutur Herry Macan dari Wanadri, kepada Didi Sunardi dari TEMPO.

Rasa putus asa dan kelelahan yang sangat membuat kedua siswa menyerah. Kerangka jenazah keduanya bukan ditemukan oleh SAR, tapi tim PHPA Taman Nasional Cibodas, yang sebelumnya tak pernah ikut mencari. Achmad Suyani, pimpinan rombongan PHPA itu, memang dikenal sebagai "orang pandai". Menurut sumber TEMPO, dia juga dulu yang menemukan jenazah Robby di Gunung Gede Pangrango. Waktu itu Achmad naik gunung setelah tim SAR mulai putus asa. Seperti juga kini, Achmad hanya butuh waktu sehari untuk menemukan korban. Daerah ditemukannya korban sebenarnya adalah daerah jelajah tim SAR.

Agaknya, justru banyaknya yang ikut mencari, sementara kemampuan berbagai kelompok pecinta alam yang sukarela menyumbang tenaga itu beragam, menyebabkan daerah sapuan ada bolongnya. Rafiq Pontoh, Koordinator SAR, tak sia-sia meninggalkan pekerjaannya hampir dua bulan.

Gunung Salak sepi kembali.

Salak memang masih tetap menjadi gunung dengan aura tersendiri. Jadi ingat saat kesalak dalam rentang 9 hari, 2x ke Salak pada 9 - 10 April 2014 & 19 - 21 April 2014

Thanks to Basecamp Pendaki Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)