09 Oktober 2015

Mendaki Gunung Bukan Untuk Opsih Opsih dan Opsih

Yes Outdoor : Mau ngeluarin isi kepala nih seputar kegiatan opsih yang seringkali kita dengar atau bahkan juga sebagai orang yang aktif untuk melakukan opsih dan mengikuti berbagai macam kegiatan opsih di banyak lokasi, gunung, hutan, curug, taman nasional atau dimanapun diadakan.


Opsih itu hampir tidak ada manfaatnya

Suka atau gak suka dengan pernyataan diatas, setuju ataupun tidak itu gak jadi soal. Kenyataannya adalah meskipun kita telah sering melakukan opsih, tapi panya kenyataannya lagi-lagi sampah menggunung, berserakan di hutan maupun gunung.

Artinya adalah bukan kita harus sering melakukan opsih, tetapi lebih kepada bagaimana kebiasaan nyampah itu bisa dicegah. Hal ini tentunya tidaklah mudah, karena harus dilakukan oleh seluruh unsur yang terkait.

Digunung & hutan-pun sampah menggunung dan menggunung lagi, meskipun opsih sering dilakukan
Tapi opsih juga bukan tugas sekelompok orang yang kemudian sekelompok yang lain dengan seenaknya nyampah, begitu berulang-ulang.

Jadi opsih bukan solusi, tetapi sekedar cara untuk mengurangi sampah. Solusi yang bisa digunakan adalah berawal dari kesadaran kita untuk tidak nyampah dan memiliki  rasa peduli pada alam. Tanamkan itu dalam diri kita masing-masing.

Katakanlah unsur dari taman nasional, karang taruna yang mengelola gunung, hutan maupun obyek alam lainnya, harus ada tim khusus yang melakukan checking apa yang dibawa masuk oleh pengunjung dan juga nanti yang harus kembali dibawa keluar kawasan konservasi.

Prosesnya lama, memakan waktu dan sumber daya, tetapi itu sudah jadi resiko. Karena memang kesadaran kita secara umum untuk tidak nyampah masih rendah. Lagipula, melakukan opsih pun tak jarang mengandung resiko juga karena faktor medan, cuaca maupun kondisi fisik.


Harus ada hukuman bagi si penyampah

Bicara mengenai hukuman, tentu ini juga tidak mudah. Banyak aspek  yang harus dipertimbangkan. Khususnya mengenai legalitas peraturan yang diterapkan, dan unsur-unsur apa saja yang akan dimasukkan.

Pertimbangan lainnya adalah tentang jenis hukuman yang diberikan, atau besaran denda  yang harus dibayarkan bagi mereka yang kedapatan melakukan pelanggaran.


Siap-siap sepi pengunjung

Salah satu kalimat yang pernah saya dengar dari pembicaraan orang-orang mengenai kewajiban untuk tidak nyampah adalah seperti ini

"Kita udah mahal-mahal bayar untuk masuk, ngapain juga harus bawa sampah kembali..." "Urusan sampah itu seharusnya tanggung jawab taman nasional, kan mereka yang telah memungut biaya masuk taman nasional"

Mungkin masih banyak yang lain, tapi itu merupakan salah satu bentuk rendahnya kesadaran untuk tidak nyampah yang berimbas pada kerusakan lingkungan.

Buat apa kita jauh-jauh dan capek mendaki gunung, jika niatan untuk menikmati keindahan alam harus dikotori oleh sampah yang menggunung pula? Tentunya itu akan sangat mengganggu kenyamanan kita.

Saya yakin, jika seluruh taman nasional dan pihak yang mengelola kawasan konservasi alam menerapkan praktek disiplin yang tinggi, maka sampah di gunung dan hutan bisa diatasi.

Sepi pengunjung? Belum tentu, tapi kelestarian lingkungan bisa dijaga. Itu adalah hal yang lebih penting daripada sekedar mengejar materi dari pengunjung yang tak peduli akan kelestarian lingkungan & tidak memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian alam.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)