25 Maret 2015

Wawancara Pribadi Tentang Pendaki Gunung

Yes Outdoor : Siang ini aku menemukan diriku yang tengah duduk dalam remang cahaya karena mendung menggelayut di langit, sementara lampu ruangan yang harusnya bisa jadi sumber cahaya terang sengaja dibiarkan padam.

Hanya laptop yang menemani dan menjadi media komunikasi, tanpa smartphone maupun stupid phone. Halooo.. apaan tuh stupid phone? Wkkk.. gak ada ya? Kirain ada juga istilah stupidphone.

Dalam diam tanpa kata, sambil sesekali meneguk air bening dalam gelas, terjadilah percakapan antara aku dan aku :

Salam lestari. Apa kabar?
Salam lestari, alhamdulillah sedang survival (sambil tersenyum manis)

Survival?
Ya betul, berusaha untuk bisa bertahan hidup dengan blogging, demi mengumpulkan kepingan dollar (kali ini tertawa lebar)

Haha.. mantap! Iya dah, biar bisa terus berbagi berita tentang aktivitas outdoor ya?
Bisa jadi begitu. Maklum lagi gak ada kerjaan nih. Tapi kenapa nyinggung-nyinggun tentang aktivitas outdoor? Padahal, saya kan juga punya blog lain selain tentang adventure dan kegiatan outdoor. Coba saja anda buka joherujo!

(Penasaran, dibuka juga tuh!)
Iya betul, tapi saya cuma ingin menanyakan tentang adventure, terutama tentang pendakian gunung. Bolehkah?
Oh.. silahkan!

Anda kan masih suka sekali dengan yang namanya mendaki, sementara dari yang saya ketahui, teman-teman Anda sudah banyak yang gantung carrier.
Ya betul sekali itu. Memang hampir semua teman-teman sudah pada gantung carrier dan mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Tapi saya yakin, jiwa mereka selalu ada untuk kegiatan yang berhubungan dengan alam. Contohnya kemarin, waktu ada LLA Gaspala 2015, mereka ikut aktif, langsung maupun tidak langsung untuk menyukseskan acara tersebut. Dan dari yang saya dengar pula, mereka berhasil mengumpulkan dana sampai jutaan rupiah dalam waktu yang tidak lama, hanya untuk mendukung suksesnya acara tersebut.

Oh, begitu? Lalu kapan anda akan mengikuti mereka gantung carrier?
(Wah berat nih pertanyaannya!) Sejujurnya saya pribadi tidak tahu dan tidak bisa menjawab kapan akan gantung carrier, karena dalam jiwa saya tidak ada kepikiran untuk itu. Ini malah sedang ada keinginan untuk membeli sebuah tas carrier dan tenda serta sepatu lagi untuk mendukung aktivitas petualangan, khususnya pendakian gunung.

Waduh, kaga kapok-kapok ya? Padahal kataya udah beberapa kali kecelakaan. Terakhir di Curug Kembar waktu terjatuh dan nyorodot di sebuah tebing yang cukup tinggi?
Hahahaha.. coba mengingatkan lagi ya kamu? Biar saya down? Terus memutuskan untuk resign? Tidak bung.. Insya Allah itu tidak jadi alasan untuk saya gantung carrier. Anda tahu? Terlalu sayang jika kita tidak menikmati dan merasakan serta jadi saksi keindahan alam kita. Keagungan karya sang kholiq. Mensyukuri dan mengamini jika Allah itu maha kuasa.


Ok, kalau itu sudah pasti. Nah bicara mengenai banyaknya sampah digunung saat ini. Menurut pendapat Anda itu bagaimana? Kebetulan kemarin di Cikuray baru saja ada opsih yang berhasil mengumpulkan hingga 50 karung lebih sampah pendaki?
Bicara mengenai sampah tentunya kembali lagi pada kesadaran diri masing-masing pendaki. Percaya atau tidak, saat ini ada pendaki yang peduli akan sampah dan kelestarian alam, tapi ada juga pendaki penikmat alam yang tidak mau ambil pusing dengan urusan sampah. Dan tak jarang diberbagai gunung, dalam berbagai kesempatan saya melihat mereka yang membuang sampah, meskipun dengan cara mengumpulkannya pada satu titik. Tapi itu yang nantinya akan jadi titik gundukan sampah.

Oh ya, ada satu contoh nyata berupa opsih, membersihkan sampah gunung Cikuray yang dimotori oleh KPGBS baru saja dilaksanakan pada 20 - 22 Maret 2015 kemarin. Meskipun masih meninggalkan tumpukan karung sampah di POS III gunung Cikuray, karena keterbatasan tenaga dan cuaca yang ekstrim. Nah rencananya akhir minggu ini, pada Sabtu dan Minggu akan kembali melanjutkan opsih untuk menurunkan karung-karung sampah dari Pos III. Barangkali ada yang mau ikut? :)

Sekarang hampir semua gunung favorit seperti Semeru, Rinjani, Gede dan masih banyak lagi, pengurusnya mempunyai pekerjaan rumah yang sama tentang sampah. Sepertinya metode yang sekarang ini tidak berjalan untuk mengatasi menggunungnya sampah. Mungkin harus ada punishment kepada para pendaki nakal yang tidak peduli sampah. Selain itu juga harus ada pemeriksaan barang-barang bawaan pendaki ketika mau naik  saat mengurus simaksi ataupun saat turun, yaitu ketika mereka laporan ke petugas basecamp pendakian.

Memang benar, sampah jadi sesuatu yang rumit. Padahal kuncinya adalah ada pada kesadaran pribadi untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selanjutnya bagaimana pendapat Anda mengenai maraknya pendaki yang berbagi foto-foto mereka dimedia sosial? Termasuk foto-foto dalam kategori narsis?
Haha.. banyak orang pingin eksis, pingin dilihat, pingin dipuji, pingin menunjukkan ini loh aku dll yang masuk dalam kategori narsis. Menurut saya itu gak masalah, selama dalam batasan normal dan jangan addict.

Tapi sekedar saran saja, supaya dalam setiap aksinya supaya selalu memperhatikan faktor keselamatan. Jangan sampai celaka cuma gara-gara ingin foto keren. Saya pernah dengar cerita dari seorang petugas jaga basecamp gunung Raung, ada seorang pendaki yang jatuh kekawah waktu mengambil foto. Mengerikan. Tahu kan seperti apa kawah gunung Raung? Memiliki kedalaman sampai empat ratusan meter dengan dinding kawah vertikal. Sehingga evakuasinya memakan waktu cukup lama karena tingkat kesulitannya yang tinggi.

Lalu, kenapa saya jarang melihat foto-foto Anda disini ataupun di sosial media?
Hahaha.. takut ada yang nyuri ah :)
Bukan begitu, menurut saya tidak ada kewajiban diri saya untuk mengunggah foto-foto kegiatan saya dialam terbuka, lagian saya bukan tipe orang yang masuk dalam kategori narsis wannabe. Jadi saya naik gunung ya karena kebutuhan jiwa, panggilan hati, bukan untuk narsis, lalu dibilang uwow!

The Last question!
Menurut Anda, mendaki gunung dengan segala resiko dan sisi positifnya itu apa?
Ok, the last answer here!
Mendaki gunung adalah proses hidup. Puncak adalah prestasi,  rumah adalah tujuan kita. Artinya adalah bahwa mendaki gunung itu memerlukan proses. Keinginan, perencanaan, persiapan, pelaksanaan. Semua itu butuh pembelajaran dan ada seni dan ilmunya yang bisa kita peroleh.

Ketika kita mendaki, disana dibutuhkan perjuangan, keberanian, semangat pantang menyerah untuk mencapai puncak prestasi. Sesaat kita menikmati puncak, sampai akhirnya harus kembali berjuang untuk turun, menyusuri jalur yang tidak selalu sama, hingga akhirnya jika selamat, kita akan sampai ke tujuan kita yaitu rumah.

Selanjutnya, dari sanalah kita akan memulai lagi perjalanan baru :) dengan cerita dan petualangan yang berbeda!

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)