24 Maret 2015

Edelweis Dipuncak Kerinci

Yes Outdoor : Menyaksikan pemandangan yang begitu menakjubkan, membuat semua lelah ku terhapus seketika itu juga. Dari Puncak Kerinci yang berada pada ketinggian 3.805 mdpl. kami dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah kota Jambi, Kota Padang, dan Kota Bengkulu. Bahkan jika Matahari telah menyapu semua kabut, Samudera Hindia yang luas pun dapat terlihat dengan jelas dari sini. Pada Puncaknya disisi Timur Laut, terdapat pula kawah sedalam 600 meter (1.969 kaki) yang berisikan air berwarna hijau. Hingga sekarang, kawah yang berukuran 400 x 120 meter ini masih berstatus aktif.


Di belakang Gunung ini, terlihat pemandangan Danau Gunung Tujuh yang sangat menakjubkan. Salah satu Aset Wisata Kerinci yang paling sering di kunjungi Turis. Sebuah Danau yang di kelilingi oleh Tujuh Gunung dengan kawah yang sangat indah, berada diatas ketinggian 1.950 mdpl. menjadi Danau Tertinggi di Asia Tenggara, juga menyuguhkan pemandangan yang sangat menarik. dan dari ketinggian Puncak Kerinci, riak Air Danau terlihat begitu anggun di terpa Sinar Matahari yang perlahan mulai berangsur naik.
“Sungguh anugrah yang luar biasa,” bisik ku pada diri sendiri, seraya tersenyum memandangi keindahan ciptaan Tuhan itu.
***
Dengan wajah yang aku buat terlihat sangat menyesal, aku berusaha untuk menolak ajakan teman-teman ku, “kali ini aku nggak bisa ikut. kalian tau sendiri kan aku.......”
belum sempat aku selesai mengemukakan alasan ku, salah seorang teman ku sudah terlebih dahulu memotongnya, “sudahlah Jane, nggak usah banyak alasan. Ray udah nggak ada lagi, ngapain juga kamu harus Trauma berkepanjangan. anggap aja dia udah mati. Beres kan,” sungut teman ku dengan wajah kesal.

Aku terdiam. tidak menjawab dan sedikitpun tidak menyanggah ucapan dari teman ku itu. karna memang aku sendiri tidak punya sanggahan atas apa yang mereka katakan.

“Kalaupun dia masih hidup dan sayang sama kamu, nggak mungkin dia tega membiarkan kamu seperti ini. Paling tidak dia akan datang untuk menjelaskan dan memberikan alasan kenapa dia menghilang tanpa memberikan kabar kepada mu. Nyata nya dia nggak pernah datang kan? Sampai lebaran monyet pun, dia juga nggak bakalan datang Jane,” Lanjut teman ku dengan nada sinis. Aku tau dia sudah sampai di puncak kemarahan nya.

Ku akui perubahan yang terjadi pada diri ku, memang berawal dari perpisahan ku dengan Ray. Cowok yang selama 2 tahun menjadi belahan jiwa ku. cowok yang sangat sempurna dimata ku, aku kagumi, aku cintai, aku banggakan dan aku merasa bahwa dia lah jodoh yang dikirim kan tuhan untuk menemani ku sampai akhir hayat nanti, ternyata hanya sekejab. Ray pergi tanpa pernah meninggalkan pesan apapun. Menghilang bagai di telan bumi. Tanpa kata, tanpa alasan dan tanpa meninggalkan jejak.

aku yang dulu adalah cewek agresif, (Eits... Positif Thinking donk), cerdas, Periang, teman-teman ku bilang, aku adalah tempat curhat yang paling baik. dan seperti sebuah Slogan yang sengaja aku pajang di kamar ku dengan ukuran yang lumayan besar, terpampang dengan sangat jelas bahwa dalam kamus hidup ku ‘Tiada Hari Untuk Menekuk Muka’.
Tinggal di daerah yang memiliki banyak Wisata Alam. juga membuat ku tumbuh menjadi seorang cewek yang suka berpetualang. Walaupun aku bukan salah satu dari Anggota Mapala atau bagian dari Organisasi Pecinta Alam lainnya, namun kecintaan ku terhadap Alam bisa di acungi jempol.
Tapi semenjak Ray pergi, semuanya berubah. Berubah 360 derajat.

Hampir satu tahun aku tenggelam dalam kesedihan. Setiap laki-laki yang mencoba mendekati ku, tidak pernah aku respon sedikitpun. Seakan aku telah mati rasa terhadap makhluk yang bernama laki-laki. Entah kenapa begitu sulit untuk merelakan semuanya dan mengembalikan Jane yang dulu. Semua teman-teman ku terus berusaha untuk menghibur ku. bahkan terkadang mereka merasa jenuh, lelah dan mungkin capek menghadapi sikap ku yang begitu dingin.

Aku tau teman-teman ku bermaksud baik dengan mengajak ku travelling ke Gunung Kerinci. Selain karna mereka tau memang sudah lama aku mengimpikan untuk bisa menaklukkan Puncak itu, Mungkin juga agar aku nggak terlihat sedih lagi karna memikirkan Ray, yang nyata-nyata sudah membuat aku terluka.

Semua alasan yang aku kemuka kan tidak membuat mereka lelah untuk terus membujuk ku dan sampai akhirnya mereka pun membuat aku menganggukan kepala dan berkata ‘ya’.
***
Persiapan yang serba mendadak itu, tidak megurungkan Niat ku untuk ikut melakukan pendakian esok harinya. Aku menyiapkan semua keperluan-keperluan mendaki, mulai dari Pakaian sampai bahan makanan yang nantinya sebagai bekal untuk bisa bertahan di atas Ketinggian 3.805 mdpl.
***
Sebelum pendakian di mulai, kami pun melaporkan diri kepada petugas di pos penjagaan TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) atau Pondok Jaga R10, tempat untuk mengawasi setiap pengunjung yang akan mendaki Gunung Kerinci.

Bapak Abriadi. Ya, itulah nama dari pertugas pos tersebut. Umurnya sudah mencapai 50 tahun, namun parawakannya masih terlihat muda. Dia begitu ramah melayani kami dan dari dia lah kami mendapat informasi tentang pengunjung yang mendaki Gunung Kerinci pada musim ini.

“Dalam dua hari ini jumlah pendaki yang sudah tercatat hampir mencapai 3000 orang,” Katanya menjawab pertanyaan dari salah seorang teman ku.

Semua kami saling pandang, berdecak kagum dengan jumlah pengunjung yang sangat luar biasa, hanya dalam waktu dua hari saja.
“Pengunjung nya dari mana saja Pak?” tanya ku, ingin tau lebih lanjut.
“Ada yang dari Padang, Pesisir Selatan, Jambi, Medan, Bandung, Tangerang, Jakarta, Surabaya dan dari warga Kerinci pun juga banyak yang ikut Mendaki,” Katanya menjelaskan panjang lebar, seraya megecek nama-nama pendaki di sebuah buku berukuran besar yang di pegangnya.

Dalam hati aku merasa bangga, karena ternyata begitu banyak orang dari luar sana yang peduli terhadap Alam tempat tinggal ku. sejenak aku teringat beberapa waktu lalu Gunung Kerinci pernah dinyatakan berstatus Waspada dan tidak boleh lagi di kunjungi oleh siapapun. Dan memang pada waktu itu setiap saat Gunung Kerinci selalu memuntahkan hawa panas. Hal ini di akibatkan karena kenakalan Penduduk yang menebang hutan tanpa ijin untuk di jadikan tempat bercocok tanam.

Mereka tidak peduli terhadap teguran petugas, yang setiap saat mengingatkan mereka untuk tidak sembarangan merambah Hutan. karena Hutan adalah salah satu sumber kehidupan. Apalagi Gunung Kerinci termasuk kedalam Area TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat), Situs Warisan UNESCO, yang merupakan Paru-paru Dunia.
Setelah mendaftarkan diri, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pintu Rimba Gunung Kerinci yang merupakan gerbang awal pendakian. Pintu Rimba ini, Berada dalam batas Hutan, antara Ladang penduduk dan Hutan Heterogen sebagai pintu masuk.
***
Pendakian yang di mulai pada jam 10.30 Wib itu berjalan lancar. aku dan teman Rombongan ku begitu menikmati pendakian itu. ‘ah akhirnya mimpi ku untuk menaklukkan Puncak Kerinci kesampaian juga,’ gumam ku dalam hati seraya terus berjalan. Di perjalanan kami menghabiskan banyak waktu dengan bergurau supaya tidak merasa begitu lelah. walupun terkadang aku merasa tenaga ku hampir habis, karena banyaknya canda dari teman-teman ku yang membuat aku tidak bisa menahan tawa.

Rombongan kami hanya berjumlah 9 orang. 7 diantaranya laki-laki dan dua orang perempuan, termasuk aku. tidak heran kenapa warga Kerinci khususnya perempuan tidak tertarik untuk mendaki Gunung Kerinci, karena memang tidak semua orang memiliki keberanian untuk ikut menikmati pemandangan dari atas Puncak Kerinci itu. Banyaknya pantangan-pantangan yang harus di patuhi. Karena memang telah terbukti apabila di langgar, akan mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi orang tersebut.

Kabar terakhir yang terdengar, ada 3 orang Mahasiswa yang hilang saat melakukan Pendakian ke Puncak Kerinci. Mahasiswa tersebut di ketahui berasal dari Kota Bandung dan sampai sekarang tidak pernah di temukan jasad nya. itu terjadi 4 tahun yang silam. Dan untuk mengenang ketiga Mahasiswa yang hilang itu, salah satu dari keluarga mereka mengabadikan nya dengan membuatkan 1 buah Tugu di Puncak Kerinci. Tugu tersebut di beri nama ‘Tugu Yudha’. dan semenjak itu, Gunung Kerinci menjadi tempat yang sangat menyeramkan bagi sebagian orang.

Itu hanya satu dari sekian banyak cerita hilangnya para pendaki di Puncak Kerinci. Banyaknya kejadian Misterius seperti itu, membuat warga Kerinci bergidik bila mengingat peristiwa-peristiwa tersebut. Kerinci yang terkenal dengan Kota Sakti, memang banyak menyimpan Misteri yang sampai sekarang masih banyak yang belum terungkap. Ilmuan-ilmuan dari luar Negeri sana banyak yang berdatangan untuk mencoba mengungkap misteri itu, namun sampai sekarang masih banyak Misteri yang belum terpecahkan.

Perjalanan kami pun terus berlanjut, sesekali kami berhenti sejenak melepas penat. Karena jalan menuju Puncak Kerinci hanya ada satu, maka tidak heran kalau jalan menjadi sangat ramai. Apalagi dengan Moment 17 Agustus, musimnya para Pecinta Alam untuk mengunjungi tempat-tempat yang bisa memberikan mereka tantangan untuk menaklukkannya.

Gunung Kerinci mungkin menjadi salah satu tujuan utama mereka, karena Gunung Kerinci merupakan Gunung Merapi aktif tertinggi di Indonesia. Gunung yang di kelilingi hutan lebat itu merupakan habitat Harimau dan Badak Sumatera.

Setelah lebih kurang 5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Shelter III yang berada pada ketinggian 3.351 mdpl. dimana disinilah biasanya para pendaki memilih tempat untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak pada pagi harinya. Ribuan orang terlihat sibuk mendirikan Tenda mereka. Hal itu membuat kami celingukan, melepaskan pandang ke semua arah, mencari ruang kosong untuk mendirikan tenda sebagai tempat istirahat. Hampir tidak ada lagi tempat yang tersisa karena banyaknya pengunjung yang datang ke Puncak Kerinci.

Setelah lama mencari-cari, akhirnya nasib berpihak juga pada kami. kami mendapatkan tempat kosong itu, yaah.... walau pun tempat itu sangat dekat dengan Jurang, tapi kami tetap bersyukur masih mendapat tempat untuk istirahat malam hari nanti.
***
“Jane, Jane...” terdengar panggilan dari luar tenda. aku mengucek kedua Mata ku. ku buka kan Resleting yang menutup pintu tenda itu. Dengan samar ku lihat salah seorang teman ku sudah berdiri di luar tenda, lengkap dengan pakaian mendakinya. Jam baru menunjukkan jam 04.00 Wib. masih pagi. namun cahaya Rembulan membuat semua nya menjadi terang.
“Ikut ke Puncak kan?” tanyanya memastikan. Aku menguap karna masih menahan kantuk. Cuaca semalam yang sangat menggigit kulit, membuat aku susah untuk memejamkan mata. Aku baru bisa tertidur setelah jam 24.00 Wib malam tadi. Namun aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang baru kali ini bisa terwujud.
“Iya,” jawab ku. Aku kembali ke tenda menyiapkan segala sesuatu untuk melanjutkan pendakian. Setelah semuanya lengkap, aku kembali ke luar tenda dan bergabung dengan rombongan ku yang sedari tadi setia menunggu ku mempersiapkan pendakian ke Puncak.

Untuk mencapai Puncak, kami harus menempuh Medan yang berupa Pasir dan batuan Cadas. Jurang yang terjal membuat kami harus ekstra hati-hati. 1 jam lebih kami menempuh perjalanan untuk mancapai Tugu Yudha. sampai disana, aku menyempatkan diri untuk mengambil beberapa gambar, sebagai bukti bahwa aku pernah kesana. dan juga untuk aku Upload dan menandai teman-teman Kampus ku yang tidak sempat ikut tentunya. (hehehe... Met sirik aja yaa...)

Kami melanjutkan pendakian terakhir menuju Puncak Kerinci, sampai disana telah banyak Rombongan pendaki lain yang sudah duluan sampai di Puncak. Masing-masing dari mereka terlihat sangat sibuk berlalu lalang. Namun tidak lama setelah itu, barulah aku ketahui ternyata mereka sedang mempersipkan Upacara Peringatan 17 Agustus, Dirgahayu Republik Indonesia. yang akan mereka peringati di Puncak Kerinci.

Melihat semangat seluruh Anggota Mapala itu, membuat aku merasa malu memandangi Negeri ini. teringat dengan kekerasan yang terjadi dimana-mana. Banyak yang menuntut berbagai hal dalam Aksi Demonstrasi nya. bahkan tidak jarang dari mereka sampai merusak Fasilitas-fasilitas Negara. Sejenak aku merenung, Terkadang kita terlalu banyak menuntut tanpa pernah bertanya pada diri sendiri apa yang telah kita berikan untuk Negara ini.

Matahari mulai berangsur naik. ku lihat banyak para pendaki yang tak mau kehilangan moment untuk mengambil gambar pada saat Sun Rise. juga teman-teman ku, mereka asyik melepaskan pandang ke Kota Kerinci yang saat itu masih tertutup kabut.
***
Ke Puncak Gunung rasanya kurang afdol kalau tidak membawa Edelweis.
Ku tinggalkan Teman-teman ku yang masih ingin menikmati pemandangan dari Puncak Kerinci itu. Aku berjalan sendiri untuk mencari Edelweis dengan menuruni Puncak Gunung. Ku lepaskan pandang ke semua arah bibir jurang yang aku tempuh. Tak berselang lama, Aku pun mendapati Edelweis itu dan segera menuju kesana untuk memetiknya.
Sampai disana, aku hanya bisa terpaku melihat sesuatu di hadapan ku. Seorang laki-laki sedang memetik Edelweis itu. Aku tidak tau dari arah mana datangnya laki-laki itu, yang jelas sekarang dia sudah berada tepat di hadapan ku. Dari gaya berpakaiannya menunjukkan bahwa dia bukan Penduduk sini. mungkin dia datang dari Luar Kota, fikir ku. Aku menelan ludah. dengan sedikit menyesal aku membalikkan tubuh ku dan berniat mencarinya di tempat lain, namun laki-laki itu menghentikan langkah ku, “Hei..”
Aku membalikkan tubuh ku sehingga berhadapan lagi dengan Laki-laki itu. “Kamu menginginkan Edelweis ini?” tanyanya sok tau. Aku tidak langsung menjawab.
“Ini buat kamu aja..” katanya lagi tanpa mempedulikan kebingungan ku.
“oh...eh... nggak” kataku sedikit terbata.
Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah ku.
“nggak papa kok, nanti aku bisa cari di tempat lain,” katanya seolah mengetahui kalau aku memang sangat menginginkan Edelweis itu.
Laki-laki itu memberikan Edelweis itu pada ku, dengan ragu aku pun mengambilnya.
“Terima kasih” kata ku seraya memamerkan senyuman termanis ku.
“Aku Yudha, dari Bandung,” katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan dan tersenyum pada ku.
“Jane” Kataku dengan semangat sembari menjabat tangan Yudha
“Orang sini ya?” tebak Yudha.
Aku mengangguk. Mata ku hampir tak berkedip menatap raut wajah Yudha yang dimata ku terlihat begitu beda dengan cowok lain. Tampan, Ramah, Sopan, nada bicaranya yang lembut, dan caranya memperlakukan ku membuktikan bahwa Yudha memang cowok baik.
(hmm...Jane, masa baru di perhatiin gitu aja kamu langsung luluh. pliiis deh Jane. Dulu waktu pertama kali kamu ketemu Ray, kamu juga bilang seperti itu. nyata nya sekarang Ray ninggalin kamu kan? Cowok dimana-mana sama aja Jane. Kesan pertama haruslah sempurna. Selanjutnya, terserah anda.)
Aku tidak menghiraukan bisikan dari bathin ku. yang aku tau sekarang, Yudha berbeda. Tidak sama dengan Ray. Trauma yang hampir satu tahun menyiksa ku, kini tidak lagi. Yudha membuat semuanya berubah. Dengan sekejab, Yudha telah mengembalikan semuanya. Jane yang dulu hampir mati, kini hidup kembali. bagai ada tiupan ruh yang mengaliri semua darah-darah ku.
***
Hari sudah menunjukkan pukul 11.00 Wib. Rombongan kami pun telah siap untuk menuruni Puncak Kerinci itu. Perjalanan terasa menyenangkan, karena banyaknya para pendaki lain yang memang bersamaan turun dari Puncak Kerinci. Aku sengaja memisahkan diri dari rombongan. Berjalan sendiri sambil mengambil beberapa gambar dengan kamera yang selalu aku tenteng selama perjalanan.
***
Perjalanan pulang sudah dekat di Pintu Rimba. Aku sangat senang bisa pulang dengan selamat bersama teman-teman ku. Terbayang kasur empuk dan selimut tebal yang akan menemani ku melepas lelah. Juga masakan Ibu yang selama dua hari aku tinggalkan.
‘Ah....Akhirnya sampai juga.’
Dengan setangkai Edelweis yang masih aku pegang, aku melangkah mantap menuju Pintu Rimba. Disana terlihat banyak para pendaki yang sedang sibuk merapikan isi tas mereka. dan disisi lain ada beberapa orang yang nampak mengenakan seragam. Berdiri tegak berhadapan dengan para pendaki itu.
Di sebuah tempat yang agak jauh dari Pintu Rimba, samar-samar aku melihat sesosok wajah yang sangat mirip dengan Yudha. cowok yang telah memberikan setangkai Edelweis ini kepada ku. aku bergegas menghampirinya, untuk memastikan bahwa itu benar-benar Yudha.

“Maaf mbak, tolong berhenti sebentar.” langkah ku terhenti oleh seseorang yang dari tadi aku lihat berdiri tegak di Pintu Rimba itu. Aku bingung. Tidak mengerti. ada apa???
“tolong serahkan Edelweis itu kepada kami!” kata Pria itu. Aku memandangi Edelweis yang sedang aku pegang. Kemudian aku melihat kepada Pria itu dan dengan hati yang masih tak mengerti aku menyerahkan Edelweis itu. Lalu petugas itu juga mengambil tas yang aku bawa, mengeluarkan semua isi nya. entah apa yang mereka cari aku tidak tau. dan setelah mereka tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka kembali memasukkan semua peralatan ku dan mengembalikannya dengan menjelaskan semua kebingungan ku. Namun ada satu yang tidak mereka kembalikan. Edelweis ku...!
***
“Maafin aku Yudha, karna tidak bisa menjaga Edelweis itu. Mereka bilang tidak ada satu orang pun yang boleh mengambil sesuatu dari hutan ini, apalagi sampai membawa nya pulang. Apabila hal itu di langgar, maka akan berakibat tidak baik.” Kata ku menjelaskan pada Yudha dengan raut wajah yang menyiratkan penyesalan.
Yudha yang sedari tadi hanya diam mendengarkan ku, kini mengalihkan wajahnya sambil menatap ku. ku lihat wajahnya begitu pucat. Mungkin karena lelah, fikir ku..
Yudha tersenyum.
“kamu nggak usah sedih Jane, aku masih punya Edelweis yang lain, ini untuk kamu...” kata Yudha, seraya mengeluarkan setangkai Edelweis dari dalam tas nya dan memberikan kepada ku.
Aku menatap wajah Yudha dengan penuh tanda tanya.
“Sebelum aku sampai di Pintu Rimba tadi, salah seorang teman memberitahukan ku bahwa akan ada Razia di Pintu Rimba, akupun menyimpan Edelweis ini sehingga tidak di temukan oleh petugas saat Razia tadi,” jelas Yudha seolah dia bisa membaca kebingungan yang tersirat di benak ku.
Aku tersenyum dan merasa lega mendengar penjelasan Yudha.
“Jane, aku dan teman-teman ingin melanjutkan perjalan pulang. Aku mohon pamit. Tapi satu tahun yang akan datang, tepatnya 17 Agustus aku akan kembali lagi ke Puncak Kerinci. maukah kamu berjanji untuk menemui ku disana, Jane?” Pinta Yudha dengan nada suara yang sangat berharap. Dari raut wajah nya aku tau kalau dia teramat menginginkan pertemuan itu.
Aku tersenyum senang.
“Jangan khawatir Yudha, aku pasti Menemui mu.” Kata ku dengan sangat yakin pada Yudha.
***
“ah Yudha, kamu benar-benar cowok yang sempurna di Mata ku.” Bathin ku di perjalanan menuju Rumah.
(Jane.... jangan mulai lagi dech..)


Julie_yHa

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)