19 Oktober 2014

Perusak Alam Berkedok Pecinta Alam

Yes Outdoor : Perasaan semakin sering aja dah diberbagai forum dibahas atau "dihujat" tentang tindakan orang-orang yang termasuk merusak kelestarian alam, khususnya mereka yang berkedok sebagai pecinta alam.

Memang harus kita akui bahwa masih perlu kesadaran dari para penggiat aktivitas outdoor untuk bersama-sama memiliki kesadaran tinggi dalam hal menjaga kelestarian ekosistem. Salah satu tindakan yang banyak dikecam adalah mereka yang berkedok pecinta alam tetapi tindakannya malah merusak alam, seperti misalnya "panen bunga edelweis".

Padahal sebagai pecinta alam harusnya senantiasa ingat dan berpegang pada kode etik pecinta alam yang dicetuskan pada gladian pecinta alam IV di Ujung Pandang.

Kita semua sepakat kan? Kalau edelweis ini salah satu yang wajib dilindungi kelestariannya sebagai salah satu simbol keabadian tetapi justru malah banyak menjadi incaran oknum yang hanya mengejar kepuasan sesaat dan membabi buta. Tidak hanya bunga edelweis tentunya, tetapi seluruh unsur yang ada dalam ekosistem yang ada dialam. Karena disana akan banyak kita temui banyak tumbuhan, bahkan yang terbilang ekstrim bisa bertahan dalam area yang keras.

Salah satu yang terbaru dan banyak mendapatkan kecaman dari para aktivis kegiatan pecinta alam adalah yang dimuat oleh Berita Manado berikut :

Kecaman keras dilontarkan berbagai komunitas dan organisasi pemerhati alam di Sulut atas sikap tidak terpuji yang dilakukan sejumlah oknum pendaki yang mengambil bunga Edelweis yang merupakan tanaman abadi dan sangat jarang tumbuh serta ditemukan di daerah pegunungan maupun puncak gunung.
“Ini tindakkan yang tidak selayaknya dilakukan oleh mereka yang mengatasnamakan pecinta alam. Seharusnya, sebagai generasi muda, menjadi tugas dan kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikan alam ini, bukannya dirusak apalagi mengambil tumbuhan Edelwis yang sangat jarang ada di puncak gunung,” kecam Eyrel Onibala, ketua Mahasiswa Petualang Alam Bebas (MPAB) Justitia Fakultas Hukum Unsrat itu.
Ia menambahkan, perlu adanya kesadaran bersama antara sesama penggiat alam untuk melestarikan alam sebagai bentuk tanggung jawab demi generasi yang akan datang. Selain itu, perlu adanya kebersamaan antara semua penggiat alam agar melakukan pencegahan dan mensosialisasikan pentingnya kelestarian alam demi kehidupan manusia dan keindahan alam itu sendiri.
“Saya sangat perihatin jika masih ada oknum-oknum yang kurang menjiwai keberadaan alam. Seorang pendaki harus sadar akan tugasnya menjaga alam ini, bukannya bersikap perusak. Karena alam ini bukan hanya untuk dinikmati saat ini saja, tapi demi generasi selanjutnya. Saya pun mengajak seluruh organisasi dan komunitas penggiat alam untuk bersama-sama memberikan pemahaman tentang pentingnya kelestarian alam, serta disaat berada di gunung perlu saling menegur dan mengingatkan. Bisa saja seorang pendaki hanya untuk mengambil sesuatu dan cuek dengan kelestariannya,” kata Eyrel. (leriandokambey)
Tiga Pesan Alam:
– Jangan Mengambil Sesuatu Kecuali Gambar
– Jangan Meninggalkan Sesuatu Kecuali Jejak
– Jangan Membunuh Sesuatu Kecuali Waktu
(Sumber: MPAB Justitia Fakultas Hukum Unsrat).

2 komentar:

  1. saya juga sering melihat postingan2 atau foto2 seperti itu, misalnya mereka foto2 dalam pendakian lalu melihat ada sampah plastik mereka tidak memungutnya, dan malahan ada yang membuang botol plastik, sangat disayangkan penggunaan nama pecinta alam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, tetapi masalah sampah adalah tentang kesadaran tiap individu. Kita sering melakukan opsih diberbagai gunung, tapi masih tetap aja sampah kembali menumpuk. Pernah suatu kali juga, kita bersama teman-teman memunguti sampah di suatu space malah menjadi obyek pemandangan para penikmat alam yang hanya melihat tanpa bereaksi :)) semoga hal-hal kecil seperti pentingnya membawa kembali sampah kita bisa jadi tradisi sehingga tidak akan banyak sampah tertinggal dihutan/gunung & alam kita bisa lestari

      Hapus

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)