19 Agustus 2014

Edelweisku Abadi, Edelweisku Sayang, Edelweisku Malang

Yes Outdoor : Makin banyak rasanya orang-orang terjun naik turun hutan dan gunung yang menandakan kegiatan pendakian gunung kembali menjadi aktivitas primadona kembali di Indonesia.

Semakin berasa efeknya setelah ada film 5 Cm, yang menurut saya meskipun adegannya kurang mengena dan bahkan cenderung ada salah kaprah dalam menyikapi pendakian, tapi jujur dari sanalah pendakian gunung kembali populer.

Semakin banyak pendaki-pendaki baru yang gak tahu darimana mereka dan latar belakangnya hingga menjadi pendaki-pendaki gunung baru yang bermunculan. Sayangnya dengan semakin banyaknya orang mendaki, semakin besar pula efek samping yang ditimbulkan, katakanlah sampah. Saya berani bilang bahwa kesadaran orang-orang yang mendaki gunung dalam menjaga kelestarian alam masihlah rendah.
Edelweis akan lebih indah ditempat aslinya :)
Coba tengok kekanan dan kekiri jalur pendakian, maka akan makin akrab aja dengan pemandangan sampah yang berserakan. Duuh... menyedihkan sekali :(

Tak cuma sampah yang menggunung, mereka juga mungkin dengan tiga point yang harusnya dipegang oleh para pendaki gunung yaitu :
1. Datanglah dengan cinta (artinya jika kita hendak mendaki, harus dilandasi oleh rasa cinta pada alam)
2. Jangan meninggalkan apapun dialam, selain jejak
3. Jangan ambil apapun dari alam, selain foto

Itulah yang membuat alam kita semakin rusak, penuh dengan sampah dan kelestarian dan keindahannya semakin terancam oleh ulah orang-orang yang melakukan aktivitas pendakian gunung.

Bunga Edelweis

Bunga ini biasa disebut sebagai bunga abadi karena dia mampu bertahan dalam waktu yang sangat lama tanpa rontok kelopaknya, sehingga biasa dianalogikan sebagai bunga abadi dan dijadikan sebagai tanda "cinta".

Sayangnya dari sanalah justru Edelweis terancam eksistensinya, terancam kelestariannya oleh tangan-tanga jahil dan tak bertanggung jawab oleh orang-orang yang mengatasnamakan pendaki dan pecinta alam.

Kebanyakan dari pemahaman yang salahlah, merepa para pendaki yang saya yakin kebanyakan adalah dari kelompok pemula dan kelompok yang kurang mendapatkan pencerahan tentang arti kepecinta-alaman dan rasa tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam, sehingga dalam benak mereka tidak tertanam arti ataupun makna dari pecinta alam dan bisa ikut menjaga kelestarian alam.

Sebagian dari mereka juga mendapat pengetahuan yang terbatas dari para senior-senior seperti yang beberapa kali saya dengar ketika mereka bertanya dan dijawab bahwa, "Edelweis adalah bunga abadi...".

Mungkin mereka mengambil kesimpulan sendiri dan dengan atau tanpa sepengetahuan senior, saat pendakian itu ataupun dipendakian berikutnya memanen Edelweis Si Bunga Abadi.

Dihujat

Sebenarnya banyak juga orang-orang yang menghujat mereka para pemanen edelweis, banyak yang geram, marah dan tak jarang menanggapi dengan emosi, tapi kejadian seperti itu acapkali muncul dan muncul lagi.

Lalu, bagaimanakan caranya menghadapi situasi seperti itu. Saya yakin tidak cukup dengan hujatan, caci maki ataupun ancaman dengan nada tinggi, karena semua berawal dari hati, dari rasa dan kesadaran untuk mencintai alam.

Semoga tidak akan lagi kita temui perusakan alam oleh para pendaki. Amin


2 komentar:

  1. menarik bro, maaf ninggalin jejak. tapi nie bunga emang tidak mudah ketemu punya kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bro, sebenernya sih tumbuhan ini mudah ditemukan, tapi untuk menemukan bunga yg mekar tidaklah sepanjang tahun, hanya pada bulan-bulan tertentu aja dalam satu tahun :)

      Hapus

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)