03 Juni 2014

Pendakian Ciremai 24 - 27 Mei 2014



Yes Outdoor : Kembali lagi ke gunung Ciremai. Gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3078 Mdpl ini kembali saya kunjungi setelah pendakian akhir Januari kemarin.

Saya seringkali berujar, meskipun kita mendaki gunung yang sama, tetapi apa yang kita dapatkan akan berbeda dari setiap pendakian yang kita lakukan.

Begitu juga dengan pengalaman terakhir saya dalam pendakian gunung Ciremai kemarin. Selain personil yang berbeda, jalur yang kami pilih-pun tidaklah sama, karena kali ini kami berinisiatif untuk mendaki melalui jalur Linggarjati dan turun di Palutungan.

Pendakian kami kemarin bertepatan dengan adanya acara opsih gunung Ciremai yang diadakan oleh komunitas pecinta alam Kuningan. Cukup ramai kegiatan tersebut yang konon diikuti oleh lebih daro 450 orang peserta.

Meskipun kami tidak ikut langsung dalam opsih tersebut, tetapi sudah menjadi standar kami ketika mendaki gunung, kami akan selalu membawa turun seluruh sampah kami dan juga ikut mengangkut sampah-sampah pendaki lain yang tercecer disepanjang jalur pendakian.

Sepertinya hal ini memang sangat perlu mendapatkan perhatian dari setiap pecinta kegiatan outdoor khususnya pendakian   gunung di Indonesia. Karena setiap kali kita naik, bisa dipastikan menemukan sampah pendaki yang banyak bertebaran disepanjang jalurnya.
Ingat, jangan meninggalkan apapun selain jejak :)
Ohya, keasikan nulis nih sampai lupa dengan siapa saja kemarin mendaki Ciremai. Total kami dari Jakarta ada 4 orang termasuk saya yang berangkat terpisah dan ketemu di basecamp. Ada Shandy, Sholah, Saya (joherujo), Rini Seterong. Kawan seperjuangan kami yang bertemu di Linggarjati adalah Bang Deddy, Fredy, Sandy, Herman Cilok, Pak Akuh, Bang Abex, Bayu, Alen, Alan, Agus, Mang Ucup, Putra. Cukup banyaklah, hampir setengah dari jumlah personil pendakian sebelumnya.

Perjalanan

Singkat aja,
  1. Shandy & Sholah berangkat dari Pulo Gadung pukul 16:xx dan sampai kuningan dan kena extra charge (calo), sampai di Linggarjati sekitar pukul 23:00 malam.
  2. Saya dan Rini (Seterong) Berangkat dari terminal Rawa Buaya sekitar pukul 18:30 malam dan sampai Linggar Jati pukul 03:xx
  3. Deddy, Fredi, Sandy, Mang Herman, berangkat sore dari tasik dan sampai Linggarjati setelah sholat Insya
  4. Pak Akuh, Mang Ucup, bang Abex, Alen, Mang Agus, Bang Alan Jungle, Kang Bayu, Putra berangkat pagi agak siang sampai di Linggarjati sekitar pukul 11:xx
Begitulah pasukan kami berangkat dalam beberapa kelompok :)

Pendakian
Kami melakukan pendakian setelah shalat Zuhur dalam satu kelompok. Sebuah pengalaman baru bagi kami semua karena sebagian dari kami adalah pendakian perdana bersama orang-orang yang baru kami jumpai, tapi tidak melunturkan semangat dan rasa kebersamaan yang ada.

Kami semua diantar ke pintu rimba menggunakan dua mobil berbeda menyusuri jalanan beraspal dan menanjak, penuh dengan aroma adrenalin tester karena dibawa cukup kencang hingga beberapa kali kami teriak saat mobil jumping dan sempet berhenti ditempat karena tak sanggup nanjak :) haha.. driver gak lulus uji katanya :p

Ketika langkah kaki kami telah memasuki hutan pinus dan terus melaju yang kami temukan adalah ratusan pendaki yang sedang istirahat. Mereka adalah para pendaki yang naik sebelum rombongan kami.

Pelan tapi pasti kami terus berjalan, istirahat, berjalan istirahat dan begitu seterusnya. Hari itu kita kesulitan untuk mendirikan tenda karena shelter yang ada telah dipenuhi oleh tenda-tenda berbagai ukuran dan warna yang telah berdiri.

Hal itu membuat kami kesusahan dan harus berpencar untuk mendirikan tenda. Alhasil 4 tenda berdiri  dibawah Sanggabuana, satu tenda dibawahnya lagi dan dua tenda 15 menit dibawahnya lagi dan harus mendirikan di area yang memerlukan perlakuan khusus untuk bisa dijadikan lokasi kami ngecamp, ratakan tanah, pasang batang kayu melintang, ratakan rumput, dirikan tenda, bikin air, masak dan menikmati malam pertama di hutan gunung Ciremai :)

Malam itu sempet kami membantu memberikan pertolongan pada salah satu peserta opsih yang mengalamai kram pada kedua kakinya. Mungkin kami dikira panitia oleh mereka :) tapi ah sudahlah.

Setelah memberikan bantuan seperlunya, dan membuatkan tandu untuk mengangkut korban ke bawah, barulah kami berusaha untuk istirahat. Tapi rupanya gak mudah karena banyaknya langkah kaki dan samalam dari para pendaki yang memang membuat kami susah tidur pulas :) tapi ah sudahlah, namanya juga lagi musim naik.



Paginya kami berkemas dan melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi Jawa Barat. Masih menyusuri jalanan menanjak dan menantang, kami berempat meninggalkan mang Alan Jungla, Bayu dan Putra serta Agus yang memutuskan untuk menunggu rombongan lain di bawah karena memang tidak ada niat mereka sebelumnya untuk mendaki :)

Bertemu juga kami dengan Fredy Emon dan Deddy di lokasi 4 tenda rombongan kami berdiri. Sikat konsumsi yang seperti mereka sediakan untuk kami :) haha.. thanks brother :)

Selesai dengan kesibukan kami, selanjutnya memutuskan untuk summit attack. Melanjutkan perjalanan ke Pos pengasinan, dan puncak. Meski tidak lagi dalam satu rombongan tapi syukurlah kami berhasil ketemu di puncak dan juga di jalur menuju puncak.

Setelahnya, tinggallah kami berempat yang ngecamp di puncak Ciremai yang sore itu hujan turun dengan disertai kabut. Kami memutuskan ngecamp karena memasesuai dengan rencana awal untuki turun via jalur Palutungan.

Kami bangun tenda dalam cuaca berkabut, dingin, gerimis dan gelap. Tetapi akhirnya berdiri juga tenda kami. Kegiatan selanjutnya adalah mengganti baju kami yang basah dengan pakaian kering, memasak ngobrol ramai dan melanjutkannya dengan istirahat malam kedua.

Ketika terbangun cuaca cepat sekali berubah antara berkabut tebal dan cerah serta kembali berkabut hingga membuat kami harus pandai-pandai mengabadikan moment sunrise pagi itu.

Setelah masak dan sarapan, dan bongkar tenda, pagi itu sekitar pukul 08:30 27 Mei, kami lanjutkan perjalanan menyusuri track kecil disepanjang bibir kawah menuju jalur Palutungan.

Akhirnya sampai juga kami disana, tempat dimana berdiri sebuah  monumen kecil puncak ciremai. Berfoto ria, berkenalan dan bercanda dengan pendaki-pendaki lain yang ada di area tersebut. Seru dah pokoknya :) dan cuaca siang itupun cerah ceria dengan hembusan angin cukup kencang.

Turun Gunung

Sekitar pukul 10:00 kami putuskan turun menyusuri jalur Palutungan. Ambil air sebentar di Gua Lawet sekalian ngumpulin sampah plastik di bawah dan juga disekitar pos gua lawet.

Perjalanan dilanjutkan dari gua lawet sekitar pukul sebelas siang, melewati medan berbatu karena memang lokasi yang ada disekitar puncak Ciremai. Setelah berjalan sekitar 20 menit kami sampai di pertigaan jalur Apuy dan Palutungan.

Karena rencana kami adalah turun melalui Palutungan, kami segera ambil jalur kiri menuju Palutungan. Siang itu ternyata masih banyak juga para pendaki yang naik ke puncak Ciremai.

Kesan yang kami dapatkan dari para pendaki yang naik melalui jalur Palutungan dan Linggarjati adalah :
Para pendaki yang mengambil rute jalur Linggarjati cenderung bermuka tegang dan capai serta susah senyum sedangkan mereka yang melalui jalur Palutungan masih bisa tersenyum saat berpapasan dengan kami :)
Selidik-punya selidik, mungkin itu karena pengaruh track yang kita lewati. Jalur Linggarjati terkenal dengan tracknya yang extreme sedangkan jalur Palutungan lebih bersahabat dengan jalur yang memanjakan mata serta kaki dengan kemiringan yang tidak extreme, kecuali disekitar Tanjakan Asoy.

Hal itu juga bisa kami rasakan, bahwa turun melalui jalur Palutungan itu begitu mengasikkan. Kita bisa santai ataupun berlari di jalur ini.

Alkisah, akhirnya kami sampai juga di basecamp Palutungan di Cigugur pada sore hari. Entah jam berapa, tapi yang jelas segera kami pesen mie rebus dan minuman penyegar untuk menyegarkan tubuh kami.

Syukur alhamdulillah, pendakian Ciremai berhasil kami lalui dan kini tinggal menunggu kendaraan pulang ke Jakarta, tapi sebelumnya kami bersihkan dulu tubuh kami, ganti baju dan celana.

Perjalanan Pulang

Kembali ke Jakarta dari Cigugur / Palutungan sebaiknya sebelum sore hari sehingga masih ada angkutan, tapi jika sudah tidak ada angkutan, kita bisa menggunakan jasa angkutan mobil pickup dengan biaya sekitar Rp.15.000 sampai ke Bunderan Cijoho tempat dimana kita bisa menunggu bus jurusan Jakarta.

Hari itu 27 Mei kami meluncur dari Cigugur /  Palutungan selepas maghrib, menuju bunderan tersebut. Mencairkan sejumlah uang untuk ongkos perjalanan, membeli oleh-oleh untuk mamah dan bapak di rumah, makan malam dengan menu nasi goreng sambil menunggu bus jurusan Jakarta.

Akhirnya bus yang ditunggu datang juga dengan muatan full setelah kami naik. Menyusuri jalur pantura yang macet, akhirnya kami bertiga (Sholah, saya dan Rini) turun di gerbang tol  Cikampek, sedangkan Shandy turun di Bekasi karena bus kami menuju ke Pulogadung via Bekasi Timur, sedangkan Sholah menuju Depok dan saya dan Rini ke Cengkareng. Tujuannya adalah untuk mempercepat waktu kami sampai di tujuan.

Benar juga akhirnya setelah mendapat bus jurusan Kuningan - Merak, kami berdua turun di Slipi dan melanjutkan dengan Taxi. Tralala.. sampailah kami di rumah :) disambut bapak dan mamah :)

cie.. ciee..

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)