27 Maret 2010

Pendakian Massal Sundoro 20 - 23 Maret 2010 (1)

Lama juga terakhir kali ke Sundoro. Eh Agustus 2009 naik juga kesana ya? lupa gw.. Gapapalah. Ini sedikit kisah perjalanan dalam Pendakian Massal Gunung Sundoro 20 - 23 Maret 2010 bersama anak-anak Gaspala yang mana tempatku meniti jalan dalam dunia outdoor sejak masih berseragam sekolah dulu ( 92 ~ 95 ). Dan ternyata hingga kini masih saja asik dengan aktivitas yang satu ini.


Banyak yan harusnya bisa kita ambil dari perjalanan itu. Dari ijin yang tidak keluar karena alasan ttt, tapi disambut dengan semangat tinggi ala (NEKAD - embrio gaspala ) yang memutuskan untuk tetap menjalankan Plan A itu ( karena emang ga ada Plan B ;) ). Persiapan yang pantas dikatakan kurang, khususnya secara fisik, dan sedikit perabot yang ( mungkin ) diremehkan keberadaannya. Adanya tali kuat yang mampu menyatukan seluruh anggota gaspala, baik yg masih aktif maupun yang udah jadi alumni. Dari Angkatan I hingga yang AM semua bersatu bersama dalam satu kegiatan pendakian itu.

Sundoro Puncak Barat



Berawal dari 20 Maret berangkat dari SMANDA 2 Kebumen dan start langsung dari perempatan stadion, dengan menggunakan mini bus, meluncur sore itu ke Wonosobo. Jalan yang dipilih melalui Wadaslintang ternyata mampu memberikan sport perut untuk beberapa peserta. Dan selanjutnya bisa dibayangkan... Menjelang Maghrib, kami telah masuk kota Wonosobo dan terus meluncur kearah Perkebunan Tambi melalui jalur Dieng. Saat itu gerimis seolah menyambut rombongan kami.


Dengan ter-engah-engah mobil mendaki jalan berkabut itu, gelap yang datang membuat kendaraan makin hati-hati melaju. Akhirnya tiba juga kami di bawah menara Perkebunan Teh, setelah sebelumnya melewati pabrik teh Tambi. Bus parkir di shelter, kami bongkar seluruh barang bawaan, melakukan pengecekan alat dan dilanjutkan denganacara malam.


Emang, malam itu kami tidak langsung nanjak, tapi diisi dengan beberapa kegiatan, mulai dari packing, materi baca peta, dan juga permainan. Yang membuat suasana malam yang dingin itu terasa hangat dengan banyaknya tawa dan jeritan yang meledak. Banyak alumni ikut dalam permainan itu ataupun sekedar menjadi pengawas dan pemateri. Sampai menjelang tengah malam akhirnya diputuskan untuk istirahan menunggu pagi. Waktu dimana kami melakukan pendakian.


Ketika pagi tiba, semua peserta melakukan persiapan akhir, dan pemanasan sebelum meniti jalan setapak ke arah puncak Gunung Sundoro. Oia, jumlah peserta yang ikut mendaki ada sekitar 22 orang termasuk alumni.


Pendakian Yang Lama
Umumnya untuk sampai ke puncak Sundoro kita butuh waktu 4-6 jam. Diiringi cuaca yang sedikit berkabut kami meniti jalanan yang membelah perkebunan teh, jalan yang tidak terlalu terjal itu dilalui dengan penuh semangat dan diiringi dengan acara foto ria pribadi. Hingga akhirnya kami mulai meninggalkan batas perkebunan dan menemukan jalurnya Sundoro, napas dan kaki yang terlihat makin berat melangkah begitu jelas kulihat di sebagian besar peserta.


Saat kabut makin tebal diiringi tiupan angin dingin dan rintik air mulai turun, sepertinya membuat mereka makin kedinginan. Peralatan yang diperlukan adalah raincoat atau-pun mantol. Dan ternyata ada diantara mereka yang tidak membawanya, padahal beberapa hari sebelumnya udah dimasukkan dalam list alat yang wajib dibawa. ( hehe.. saya sendiri ga bawa... ;) ) Sebagai sweeper, saya bisa jelas melihat semua peserta dari belakang, rombongan mulai kacau, apalagi ketika jalur yang diambil ternyata salah, masuk ke jalu lama dan menemui semak yang rimbun menutup jalan ke puncak.


Itu membuat mereka yang baru ikut mulai panik dan sedikit kacau, sampai akhirnya diputuskan untuk mundur, kearah jalur yang benar. Untung belum terlalu jauh, sehingga waktu yang dibutuhkan-pun relatif sebentar. tidak sampai 30 menit, rombongan telah menemukan jalannya. Tapi belum lagi lama, dari atas terdengar teriakan Bendot, "awas.. awas... ndodok..ndodok ( jongkok -red ) " ternyata dia bertemu dengan kawanan ajag ( anjing liar ) yang akhirnya berpencar dan ada satu yang berlari kearah rombongan. Saya dari belakang sebenarnya pengin ketawa dengan mbah Maman melihat kelakuan mereka. Benar juga, anjing itu terus berlari kebawah kearah kami, dan kami hanya melihatnya. Si anjing pun berhenti sesaat dibelakangku. Kulihat dengan jelas bulu tebal dan basah serta mata dan giginya yang tajam. Tapi tidak juga bereaksi dan akhirnya melanjutkan larinya kebawah dan terus menggonggong seolah memanggil temannya yang berpencar entah kemana.


Siang itu, kabut tebal & angin serta hujan terus saja mengiringi jalan kami. Dingin semakin terasa jelas membungkus tubuh kami. Saya yang tidak membawa jas hujan, ikut ndompleng Bendot. Ketika hujan makin besar sempat kami diam dan mendirikan bivak untuk berlindung. Ketika angin dan hujan sedikit mereka perjalanan kami lanjutkan kembali. Tapi ternyata tidak enak menggunakan 1 jas hujan untuk berbagi berdua dalam perjalanan. Saat saya dibelakang mengikuti langkah kaki Bendot di depan, sungguh satu hal yang tidak nyaman, begitu-pun sebaliknya. Maka akhirnya saya putuskan untuk membiarkan hujan menerpa tubuhku dan membasahi seluruh baju, celana dan sepatu. 

Saat itu tengah hari sudah lewat, tapi rombongan belum juga mendekati area puncak. Ketika istirahat dirasakan tidaklah nyaman lagi, maka kita putuskan untuk melanjutkan pendakian. belum terlalu lama ternyata ada peserta yang sakit. Rupanya ia terkena hipo ringan yang termasuk kedalam AMS. Sesaat saya amati rombongan yang terpecah. Ternyata masih ada satu orang lainnya yang menderita kram. Wah..wah.. wah... Dengan berbagai pertimbangan, maka mereka melanjutkan perjalanan ke puncak, dengan leader Bendot dan Maman diikuti beberapa anggota aktif gaspala. Entah bagaimana perjalanan mereka selanjutnya. Ketika anggota lain berusaha membantu perawatan si sakit, saya mulai berfikir untuk segera menurunkannya ke bawah. Tapi tidak terlalu jauh karena cuaca yang tidak memungkinkan. Akhirnya menemukan satu lokasi yang tidak ideal ( karena miring ) untuk mendirikan tenda, karena memang kebawah-pun medannya sama.


Dengan kang Bgog akhirnya saya dirikan tenda di situ. Beberapa saat kemudian tenda  kami-pun telah berdiri dan sisakit kami masukkan kedalamnya. Memberikannya baju kering dan juga jaket hangat dan membungkusnya dalam sleeping bag. Diluar tenda kami memasak air untuk bisa menghangatkan tubuhnya. Singkat cerita keadaannya membaik, mulai bisa mengontrol suhu tubuhnya bahkan bisa diajak bicara.


Ketika malam 2 orang ( Bgog & Eno ) saya usulkan untuk menyusul yang diatas. Karena komunikasi kami yang terputus. Meski sebelumnya pernah saya berhasil menghubungi Bendot di puncak, untuk sekedar memastikan rekan-rekan kami yang menuju puncak. Berbekal alat dan logistik, akhirnya mereka berangkat, dengan satu misi mengetahui keadaan semua pendaki di atas, untuk kemudian memberikan laporan dan bila memungkinkan kembali esok paginya setelah sun rise.
  
                                                                                            ....................... bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)