27 Januari 2010

Acute Mountain Sickness ( AMS )


Hoby. Kata yang satu ini bisa membuat orang acuh akan berbagai hal. Asal hoby-nya kesampaian, mereka tidak lagi  peduli resiko lain yang mengintai dibalik hoby-nya itu. Katakanlah resiko kecelakaan, penyakit, tersesat, bahkan mati-pun ia pertaruhkan.


Seorang pendaki gunung akan merasakan kenikmatan saat mereka menyusuri jalan setapak, keluar masuk hutan, saat wajahnya dibelai dinginnya angin disambut putihnya kabut. Kepuasan akan mereka rasakan manakala berhasil mencapai target mereka. Kepuasan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Mereka sebenarnya menyadari resiko dari aktifitas yang digemarinya seperti disebutkan diatas. Saat menapaki daerah yang memiliki ketinggian diatas 3000 meter, resiko terkena penyakit AMS ( Acute Mountaint Sickness ) semakin besar. Apa sih AMS itu ?

Kita mengetahui bahwa makin tinggi letak suatu tempat, maka kondisi oksigen yang terkandung-pun semakin tipis yang membuat tubuh manusia lebih sulit menghadapi kondisi tersebut. Maka tidak heran apabila kita telah mencapai ketinggian diatas 2500 m, tubuh kita mulai merasa cepat capai dan napas-pun semakin deras keluar-masuk hidung kita, apalagi setelah lepas dari 3000 meter. Cara terbaik untuk menyiasatinya adalah dengan melakukan aklimitasi atau adaptasi.



Trik untuk mengatasi AMS


  1. Pastikan fisik dalam kondisi prima dan ikuti prosedur perjalanan di ketinggian sesuai standar yang benar
  2. Apabila kita telah melewati ketinggian 3.400 meter, sebisa mungkin jangan melakukan perpindahan tempat dengan ketinggian lebih dari 450 meter perhari, meskipun kita tidak merasakan perubahan kondisi tubuh.
  3. Peralatan yang mendukung aktivitas kita harus  jangan sampai kita lupakan.

Jenis-jenis AMS

Early Mountain Sickness

  • Kepala pusing
  • Mual
  • Hilang selera makan
  • Susah tidur. Jangan menambah ketinggian sampai kondisi lebih baik / normal kembali

Pulmonary Oedema ( Gangguan organ paru-paru )

  • Badan lemas
  • Cosim Ngantuk
  • Detak jantung meningkat
  • Batuk kering, makin lama disertai keluarnya darah
  • Suara napas makin keras
  • Dada serasa sesak
  • Bibir dan kuku berubah warna menjadi lebih gelap atau ungu. Saat timbul gejala tersebut, maka jalan keluarnya adalah harus segera menuju ketempat yang lebih rendah / segeralah turun.

Cerebral Oedema ( Gangguan pada organ otak )

  • Kelelahan
  • Muntah-muntah
  • Kepala terasa sakit sekali
  • Susah berjalan
  • Meracau / bicaranya tidak terkendali
  • Perilaku yang tidak normal
  • Merasa selalu ngantuk
  • Pingsan. Segeralah menuju ke tempat yang rendah, jangan paksakan berdiam di lokasi apalagi menambah ketinggian. Turun adalah solusi terbaik.

Saat kita memastikan ada rekan kita atau bahkan diri kita merasakan hal tersebut diatas, yang harus segera dilakukan adalah :

  • Segera turun, bagaimanapun kondisinya meskipun itu dalam keadaan gelap / malam
  • Jangan biarkan korban sendiri, temani, jaga atau harus dikawal
  • Jangan terlalu mempercayakan pada obat-obatan, karena cara terbaik adalah harus menuju tempat yang lebih rendah

Contoh penyakit yang sering menimpa pendaki

  • Hipothermia ( menurunnya suhu tubuh secara drastis di bawah normal )
  • Hipoksia ( kekurangan pasokan oksigen yang dibutuhkan tubuh )
  • Dehidrasi ( kekurangan cairan tubuh )
Dibalik aktivitas kita di alam terbuka selalu ada nilai risk yang menyertai, tapi itu bukanlah penghambat, melainkan tantangan bagi kita untuk bisa meminimalisir atau menghindari hadirnya bahaya itu. Persiapan, manajemen, peralatan dan skill kita akan sangat menentukan kesuksesan kita. yey-outdoor!

2 komentar:

  1. Wah keren tips dan infonya yaa...
    tahun 1990 an saya sempet naik gunung slamet, tapi sekarang sudah takut lah...
    badan kurang mendukung

    BalasHapus
  2. @ Pak Big Sugeng : Makasih udah singgah pak... ya.. Gunung Slamet 1 gunung tertinggi di Jateng dan 1 juga gunung di Jateng yang hutannya masih Oke...

    BalasHapus

Silahkan meninggalkan jejak disini bro & sist :)